- Details
- Hits: 146
Padang (Sasmin) – Sebanyak Mahasiswa baru Program Studi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, mengikuti rangkaian Bimbingan Aktivitas Kemahasiswaan dalam Tradisi Ilmiah (BAKTI) Unand 2026 sebagai langkah awal memasuki kehidupan akademik di Universitas Andalas.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pengenalan lingkungan kampus bagi mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027. Melalui rangkaian BAKTI, mahasiswa diperkenalkan dengan kehidupan akademik, tradisi ilmiah, budaya kampus, serta berbagai ruang pengembangan diri yang dapat diikuti selama menempuh pendidikan di Universitas Andalas.
Bagi mahasiswa baru Sastra Minangkabau, momentum tersebut menandai dimulainya perjalanan akademik untuk mendalami bahasa, sastra, dan kebudayaan Minangkabau. Mereka tidak hanya akan menjalani proses pembelajaran di ruang kuliah, tetapi juga berhadapan langsung dengan kekayaan tradisi dan dinamika kebudayaan yang menjadi bagian dari objek kajian Program Studi Sastra Minangkabau.
Sebagai salah satu program studi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Program Studi Sastra Minangkabau memiliki peran dalam pengembangan kajian bahasa, sastra, dan kebudayaan Minangkabau. Proses pendidikan yang dijalani mahasiswa diarahkan untuk membangun pemahaman akademik sekaligus kemampuan dalam membaca, mendokumentasikan, mengkaji, dan mengembangkan berbagai ekspresi kebudayaan Minangkabau dalam konteks masyarakat yang terus berubah.
Melalui BAKTI Unand 2026, mahasiswa baru juga mulai diperkenalkan dengan kehidupan sebagai bagian dari sivitas akademika Universitas Andalas. Masa peralihan dari pendidikan menengah ke perguruan tinggi menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk membangun kemandirian, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta membentuk tanggung jawab terhadap proses pendidikan yang mereka jalani.
Kegiatan BAKTI sekaligus menjadi ruang awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal sesama mahasiswa, dosen, serta lingkungan akademik yang akan menjadi bagian dari perjalanan mereka selama beberapa tahun ke depan.
Memasuki Program Studi Sastra Minangkabau juga berarti menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pengetahuan dan kebudayaan Minangkabau. Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami warisan budaya sebagai sesuatu yang berada di masa lalu, tetapi juga mampu melihat relevansinya dalam kehidupan kontemporer.
Dengan semangat tersebut, mahasiswa baru Sastra Minangkabau diharapkan dapat menjalani masa studi dengan aktif, kreatif, dan produktif. Kehidupan kampus menjadi ruang untuk mengembangkan kapasitas akademik, memperluas pengalaman, membangun jejaring, serta menghasilkan karya yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Selamat datang mahasiswa baru Sastra Minangkabau Universitas Andalas. Selamat memulai perjalanan akademik dan menjadi bagian dari generasi baru yang akan membaca, merawat, mengembangkan, dan membawa kebudayaan Minangkabau ke ruang yang lebih luas.
- Details
- Hits: 60
Padang (Sasmin) - Sebelum sebuah randai dimainkan di galanggang, ada cerita yang terlebih dahulu harus dibangun. Tokoh diberi nama, hubungan di antara mereka ditentukan, konflik disusun, percakapan dituliskan, dan perjalanan cerita dibagi ke dalam babak-babak. Kaba yang semula hidup sebagai cerita perlahan berpindah menjadi naskah, sebelum akhirnya kembali memperoleh tubuh melalui para pemain.
Proses penciptaan itulah yang menjadi pusat pertemuan ketiga program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas bersama Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati, Minggu, 16 Agustus 2026.
Jika pada pertemuan sebelumnya anggota komunitas diajak mendalami kaba dan pengetahuan yang berada di balik randai bersama Musra Dahrizal Katik Jo Mangkuto, pertemuan kali ini membawa peserta memasuki ruang penciptaan. Mereka mulai belajar bagaimana sebuah gagasan dikembangkan menjadi naskah yang dapat dimainkan.
Pelatihan menghadirkan Irwandi, S.S., M.Sn., seorang praktisi randai dan salah seorang pelatih Perguruan Seni Tradisi Singo Barantai. Latar sebagai praktisi memberi warna tersendiri pada proses pembelajaran karena naskah tidak dibicarakan semata sebagai teks sastra, tetapi sebagai teks yang sejak awal harus membayangkan kehidupan di atas galanggang.
Irwandi menempatkan naskah atau sastra sebagai salah satu dari tujuh unsur randai bersama silek, tari, dendang, musik, teater atau drama, dan artistika. Karena unsur-unsur tersebut hadir secara bersamaan dalam pertunjukan, menulis naskah randai menuntut pemahaman terhadap randai sebagai satu kesatuan. Seorang penulis perlu mengetahui bagaimana randai dimainkan dan bagaimana teks yang ditulis nantinya diterjemahkan menjadi pertunjukan.
Di sinilah menulis randai berbeda dari sekadar menuliskan sebuah cerita. Naskah biasanya berangkat dari kaba. Irwandi memperkenalkan kaba klasik yang berkisah tentang masa lampau, kerajaan, atau tokoh dengan kemampuan luar biasa, serta kaba baru yang membawa persoalan sosial masyarakat Minangkabau, seperti hubungan mamak dan kemenakan, perebutan harta warisan, dan persoalan percintaan.
Namun, kaba yang telah dipilih masih harus mengalami pengolahan. Peserta diajak menentukan ide dan sinopsis, latar kejadian, tokoh, hubungan antartokoh, watak, alur, hingga pembagian babak. Dalam proses tersebut, cerita mulai memperoleh struktur yang memungkinkan ia kelak dimainkan.
Bahasa menjadi lapisan berikutnya. Dialog randai dapat dibangun melalui prosa liris, pasambahan, pantun, mamangan, bidarai kato, gurindam, kiasan, seloka, talibun, hingga mantra. Irwandi mendorong penggunaan pantun, kiasan, mamangan, dan bentuk-bentuk bahasa tersebut dalam dialog, serta menghindari penggunaan bahasa langsung sejauh memungkinkan.
Dengan cara demikian, bahasa dalam naskah tidak hanya menyampaikan apa yang hendak dikatakan tokoh. Ia sekaligus membawa jejak estetika bertutur masyarakat Minangkabau.
Dendang juga tidak ditempatkan sebagai penghias. Ia dapat menjadi penghubung antara satu babak dengan babak berikutnya, membangun suasana sedih, haru, maupun gembira, bahkan menyampaikan bagian cerita yang sulit divisualisasikan. Penulis, karena itu, harus mulai membayangkan hubungan antara kata, suasana, gerak, dan bunyi sejak naskah masih berada dalam proses penciptaan.
Setelah memperoleh pengetahuan dasar tersebut, anggota Kuranji Sejati mulai bekerja dengan cerita mereka sendiri. Peserta berlatih menyusun kerangka cerita, menentukan tokoh, membangun dialog, dan merancang adegan. Hasil latihan kemudian dibicarakan bersama untuk memperoleh tanggapan sebelum dikembangkan lebih lanjut.
Pada tahap ini, pelatihan menemukan maknanya yang lebih penting. Anggota komunitas perlahan bergeser dari posisi sebagai orang yang memainkan cerita menuju orang yang juga mampu menciptakan cerita.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas, Yerri Satria Putra, menjelaskan bahwa kemampuan tersebut penting bagi kemandirian komunitas. Keberlanjutan randai tidak cukup hanya ditopang oleh kemampuan memainkan naskah yang telah tersedia. Komunitas juga perlu memiliki kemampuan menggali kaba, membaca persoalan sosial di sekelilingnya, kemudian mengolahnya menjadi karya baru.
Karena itu, pertemuan 16 Agustus tidak mengakhiri proses penulisan. Kerangka cerita dan latihan yang lahir dari pelatihan akan dikembangkan melalui pendampingan hingga menjadi beberapa naskah randai. Dari proses itulah regenerasi memperoleh bentuk yang lebih nyata. Tradisi tidak hanya diwariskan sebagai sesuatu yang diterima dari masa lalu, tetapi sebagai pengetahuan yang dapat dipelajari, diolah, dan diciptakan kembali.
Kelak, ketika naskah-naskah itu dibawa ke galanggang, kaba kembali memperoleh suara dan tubuh. Bedanya, kali ini cerita tersebut lahir dari tangan komunitas sendiri.
- Details
- Hits: 70
Padang (Sasmin) - Pengetahuan tentang randai tidak seluruhnya tersimpan dalam buku. Sebagiannya hidup dalam tubuh para pelaku: pada langkah silek, irama dendang, pilihan kata dalam dialog, gerak galombang, serta ingatan tentang kaba yang terus dituturkan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Pengetahuan itulah yang menjadi pusat pertemuan kedua program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas bersama Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati, Minggu, 9 Agustus 2026. Pada pertemuan ini, tim menghadirkan maestro seni tradisi Minangkabau, Musra Dahrizal Katik Jo Mangkuto atau Mak Katik, sebagai narasumber utama. Kegiatan dimoderatori sekaligus didampingi oleh Dr. Eka Meigalia, S.Hum., M.Hum.
Di hadapan anggota komunitas, Mak Katik mengajak peserta melihat randai bukan sekadar sebagai seni pertunjukan. Randai merupakan ruang pertemuan berbagai pengetahuan yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Di dalamnya terdapat silek, kaba atau cerita, dendang atau gurindam, bunyi-bunyian, laku atau akting, pakaian, serta prinsip saiyo sakato. Semua unsur tersebut saling berhubungan dalam membangun sebuah pertunjukan.
Karena itu, belajar randai berarti pula belajar memahami kebudayaan yang berada di belakangnya. Silek, misalnya, tidak hanya hadir ketika pemain melakukan adegan perkelahian. Pengetahuan silek telah terlihat ketika pemain memasuki galanggang, membentuk galombang, berdiri, berbicara, dan merespons pemain lain. Tubuh pemain menjadi tempat pengetahuan itu disimpan sekaligus diperlihatkan.
Mak Katik juga menempatkan adat salingka nagari sebagai landasan penting dalam memahami randai. Randai yang tumbuh di suatu nagari membawa pengetahuan lokal masyarakatnya. Langkah silek, bentuk galombang, bahasa, dendang, pakaian, dan unsur permainan anak nagari dapat memperlihatkan kekhasan tempat kesenian itu tumbuh.
Pembicaraan kemudian bergerak kepada kaba dan bahasa Minangkabau. Bagian ini menjadi penting karena rangkaian pendampingan Kuranji Sejati diarahkan agar komunitas tidak hanya mampu memainkan randai, tetapi juga memiliki kemampuan mengembangkan cerita dan melahirkan naskah randai sendiri.
Menulis naskah randai, dalam pandangan Mak Katik, tidak cukup dengan menyusun dialog. Penulis perlu memahami siapa yang berbicara, kepada siapa ia berbicara, bagaimana kedudukan tokoh dalam kehidupan sosial, serta bahasa seperti apa yang sesuai dengan karakter dan situasi. Ia memperkenalkan berbagai bentuk bahasa dalam cerita randai, mulai dari bahasa ibu atau bahasa palanta, pantun biasa, pantun bidarai, pantun adat, bidarai kato, hingga bidarai adat.
Dengan demikian, bahasa dalam randai tidak semata menjadi alat komunikasi. Di dalam bahasa tersimpan hubungan sosial, etika, estetika, dan cara masyarakat Minangkabau memandang kehidupan.
Pertemuan hari itu menjadi semakin menarik ketika pengetahuan yang sebelumnya dibicarakan kemudian hadir dalam bentuk pertunjukan. Mak Katik bersama mahasiswa yang sedang dibinanya melalui program Belajar Bersama Maestro menampilkan Randai Lara Sati. Saat ini, sebanyak sepuluh mahasiswa mengikuti proses pembelajaran langsung bersama Mak Katik dalam program tersebut.
Pertunjukan Lara Sati menjadikan galanggang sebagai ruang belajar. Peserta dapat melihat bagaimana silek, kaba, dendang, dialog, gerak, dan musik yang sebelumnya dibicarakan bekerja secara bersama-sama. Apa yang semula hadir sebagai penjelasan berubah menjadi pengalaman yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas, Yerri Satria Putra, menjelaskan bahwa menghadirkan maestro menjadi penting karena keberlanjutan randai tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan pertunjukan. Pengetahuan yang berada di balik pertunjukan juga perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pertemuan dengan Mak Katik sekaligus menjadi jembatan menuju tahapan berikutnya, yakni pelatihan dan pendampingan penulisan naskah randai. Anggota Kuranji Sejati diharapkan secara bertahap mampu menggali kaba, mengembangkan cerita, membangun tokoh dan konflik, menyusun dialog, hingga melahirkan karya mereka sendiri.
Di sinilah keberlanjutan tradisi menemukan maknanya. Tradisi tidak hanya bertahan karena masih dipertunjukkan, tetapi karena pengetahuan di belakangnya masih dipelajari, para maestro masih memiliki ruang untuk berbagi, dan generasi berikutnya memiliki kemauan untuk menerima, memahami, lalu mengembangkannya kembali.
Pada hari itu, galanggang Kuranji Sejati menjadi ruang tempat proses tersebut berlangsung: dari maestro kepada generasi yang belajar, dari kaba menuju pertunjukan, dan dari ingatan budaya menuju kemungkinan lahirnya karya-karya baru.
- Details
- Hits: 44
Padang (Sasmin) - Kesenian tradisional tidak hidup hanya ketika ia dipertunjukkan. Ia hidup dalam ingatan orang-orang yang menjaganya, dalam tubuh yang terus berlatih, dalam cerita yang dituturkan kembali, dan dalam pengetahuan yang berpindah perlahan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Di dalam ruang seperti itulah randai bertahan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau.
Kesadaran tersebut menjadi pijakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas bersama Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati yang dimulai pada Minggu, 2 Agustus 2026. Pertemuan pertama ini menjadi awal dari rangkaian pendampingan yang diarahkan pada penguatan kapasitas komunitas dalam mengembangkan randai, mendokumentasikan pengetahuan budaya, serta memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas ruang hidup kesenian.
Program pendampingan direncanakan berlangsung selama beberapa bulan dan dilaksanakan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat LPPM Universitas Andalas. Tim diketuai oleh Yerri Satria Putra, S.S., M.A., dengan anggota Dr. Eka Meigalia, S.Hum., M.Hum., Pramawahyudi, S.Kom., M.T., dan Okta Firmansyah, M.Hum.
Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa lintas program studi sebagai asisten lapangan, yaitu Muhammad Shadra Shirazzi Putra dari Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Wira Santika, Khairunnisa Nabila, Nazila Zeri, dan Muchtarizal dari Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya; serta Puti Raudhatuzzahra dari Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Komposisi tersebut mempertemukan perspektif kebudayaan, teknologi, manajemen, dan administrasi dalam satu kerja pendampingan bersama masyarakat.
Pertemuan pertama tidak langsung dimulai dengan pelatihan. Tim memilih untuk terlebih dahulu mendengar dan mengenali komunitas dari dekat. Setelah pembukaan dan sosialisasi program, kegiatan bergerak ke dalam diskusi mengenai kondisi, potensi, dan kebutuhan Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati. Percakapan kemudian dilanjutkan melalui wawancara mendalam dan pengambilan dokumentasi sebagai bahan pengembangan konten situs web komunitas.
Pilihan untuk memulai dengan mendengar menjadi penting karena keberlanjutan kesenian tradisional tidak dapat dilepaskan dari orang-orang yang menjalani tradisi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Komunitas bukan semata objek pelestarian, melainkan pemilik pengetahuan sekaligus pelaku utama yang menentukan bagaimana pengetahuan itu akan diteruskan.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Yerri Satria Putra, menjelaskan bahwa persoalan yang dihadapi Kuranji Sejati bukan terletak pada ketiadaan aktivitas. Komunitas masih memiliki anggota, latihan masih berlangsung, dan randai masih dipertunjukkan. Modal sosial dan budaya tersebut justru menjadi kekuatan utama yang perlu dikembangkan.
Tantangannya terletak pada bagaimana pengetahuan yang selama ini hidup melalui praktik dapat terus dikembangkan menjadi pengetahuan dan karya yang dapat diwariskan. Dalam konteks randai, persoalan tersebut menjadi penting karena sebuah pertunjukan mempertemukan banyak unsur kebudayaan Minangkabau sekaligus. Di dalamnya terdapat kaba, dialog, dendang, musik, gerak, dan silek yang saling berkelindan membangun sebuah pertunjukan.
Karena itu, menjaga randai tidak cukup dimaknai sebagai menjaga sebuah bentuk pertunjukan. Di dalam randai terdapat pengetahuan tentang bahasa, cerita, tubuh, musik, hubungan sosial, serta cara masyarakat Minangkabau menafsirkan pengalaman kehidupannya. Ketika sebuah komunitas randai tumbuh, sesungguhnya terdapat sejumlah pengetahuan budaya yang ikut memperoleh ruang untuk terus hidup.
Atas dasar itu, program pengabdian dirancang tidak berhenti pada pemberian pelatihan. Pendampingan diarahkan agar komunitas secara bertahap memiliki kemampuan untuk mengembangkan karya, mendokumentasikan pengetahuan yang mereka miliki, dan membangun kemandirian dalam mengelola aktivitas kesenian.
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan situs web komunitas. Dalam pertemuan 2 Agustus, tim melakukan wawancara mendalam untuk menggali sejarah perguruan, aktivitas kesenian, pengalaman anggota, serta berbagai pengetahuan yang nantinya dapat dikembangkan menjadi konten digital.
Situs web dalam program ini tidak dirancang sekadar sebagai halaman informasi. Ia diharapkan menjadi ruang tempat jejak perjalanan komunitas dihimpun. Profil perguruan, dokumentasi latihan dan pertunjukan, karya, aktivitas anggota, serta pengetahuan budaya dapat disimpan dan diperkenalkan kepada masyarakat secara lebih terstruktur.
Dalam perspektif yang lebih luas, dokumentasi digital juga menjadi bagian dari upaya mempertemukan tradisi dengan perubahan zaman. Pengetahuan yang sebelumnya lebih banyak beredar di lingkungan internal komunitas memperoleh kemungkinan untuk menjangkau ruang yang lebih luas tanpa harus melepaskan komunitas dari akar sosial dan budayanya.
Identitas digital yang dikelola secara profesional pada akhirnya juga dapat menjadi modal sosial baru bagi Kuranji Sejati. Melalui ruang tersebut, komunitas dapat membangun jejaring, memperkenalkan portofolio pertunjukan, membuka peluang kerja sama, serta secara bertahap mengembangkan aktivitas ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya. Teknologi, dalam konteks ini, tidak ditempatkan sebagai pengganti tradisi, tetapi sebagai medium yang membantu tradisi menemukan ruang hidup baru.
Ketua Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati, M. Zen, menyambut program pendampingan tersebut dan menyampaikan terima kasih kepada Universitas Andalas atas keterlibatan perguruan tinggi dalam mendampingi pengembangan komunitas mereka.
Pertemuan 2 Agustus menjadi tahap awal untuk membaca kebutuhan tersebut secara bersama-sama. Setelah pemetaan dilakukan, rangkaian kegiatan akan bergerak pada penguatan kapasitas penciptaan karya. Anggota komunitas akan memperoleh penguatan pemahaman mengenai kaba sebagai sumber penciptaan randai, teknik penulisan naskah randai berbahasa Minangkabau, penyusunan kerangka cerita, penciptaan tokoh, dialog dan adegan, hingga pendampingan dalam proses penulisan naskah.
Arah tersebut berangkat dari pemahaman bahwa kaba menempati posisi penting dalam kehidupan randai. Kaba menyediakan dunia cerita tempat tokoh, konflik, nilai, dan pengalaman sosial masyarakat memperoleh bentuk naratif. Kemampuan komunitas untuk mengolah sumber tersebut menjadi naskah baru menjadi salah satu jalan untuk memastikan randai tidak hanya mengulang karya yang telah ada, tetapi terus memiliki kemungkinan untuk melahirkan karya dari tangan komunitas sendiri.
Pada titik inilah pengabdian kepada masyarakat menemukan maknanya bukan sebagai kegiatan yang datang membawa pengetahuan dari luar, melainkan sebagai proses mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengetahuan yang telah lama hidup di tengah komunitas.
Perguruan tinggi dapat menghadirkan metode, teknologi, pendampingan, dan jejaring. Namun, ingatan tentang kaba, pengalaman memainkan randai, pengetahuan tentang silek, dendang, musik, dan kehidupan komunitas tetap berada pada orang-orang yang menjalaninya.
Dari perjumpaan keduanya, diharapkan tumbuh sebuah proses pemberdayaan yang tidak mencabut tradisi dari pemiliknya. Sebaliknya, komunitas diperkuat agar semakin mampu mengenali pengetahuan yang mereka miliki, mengembangkannya menjadi karya, mendokumentasikannya, serta memperkenalkannya kepada dunia yang lebih luas.
Sebab keberlanjutan sebuah tradisi pada akhirnya tidak hanya dapat dihitung dari berapa kali ia dipertunjukkan. Ia juga dapat dilihat dari apakah masih ada orang yang mempelajarinya, menuturkannya kembali, menciptakan karya baru darinya, dan merasa bahwa tradisi tersebut masih memiliki arti bagi kehidupan mereka hari ini.
- Details
- Hits: 58
Padang (Sasmin) - Menjadi pemimpin tidak selalu dimulai dari sebuah jabatan. Ia sering kali bermula dari hal-hal sederhana: keberanian mengambil tanggung jawab, kesediaan mendengarkan orang lain, kemampuan bekerja bersama, dan kemauan untuk terus belajar. Kesadaran inilah yang menjadi semangat penyelenggaraan Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Tahun 2026 oleh Program Studi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.
Kegiatan yang mengusung tema “Bertumbuh sebagai Pemimpin, Berkembang sebagai Intelektual” ini dilaksanakan selama tiga hari, Jumat hingga Minggu, 10 hingga 12 Juli 2026, di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Sebanyak 75 mahasiswa Program Studi Sastra Minangkabau mengikuti kegiatan sejak pukul 08.00 hingga 17.30 WIB setiap harinya.
Dalam sambutannya, Yerri Satria Putra, S.S., M.A. Ketua Program Studi Sastra Minangkabau, Pelatihan ini dirancang dengan satu kesadaran bahwa mahasiswa Sastra Minangkabau tidak cukup hanya dibekali kemampuan akademik. Mereka juga perlu memiliki karakter yang kuat, kemampuan bekerja sama, keluasan wawasan, keberanian mengambil keputusan, serta kecakapan membaca perubahan zaman. Di atas semua itu, mereka perlu memahami akar kebudayaan yang menjadi bagian dari identitas keilmuan mereka.
Karena itu, kepemimpinan dalam kegiatan ini tidak diperkenalkan sebagai perkara bagaimana seseorang memerintah orang lain. Kepemimpinan justru dimulai dari kemampuan mengelola diri sendiri. Dari sana, mahasiswa belajar mengelola kelompok, memahami organisasi, membangun komunikasi, menyelesaikan persoalan, dan mengambil tanggung jawab atas keputusan yang dibuat.
Berbagai perspektif dihadirkan selama pelatihan. Prof. Pramono, M.Si., Ph.D., Musra Dahrizal Katik Jo Mangkuto, Yerri Satria Putra, S.S., M.A., Dr. Herry Nur Hidayat, S.S., M.Hum., Dr. Eka Meigalia, S.Hum., M.Hum., Sehla Rizqa Ramadhona, S.S., M.A., Wira Santika, dan Ardian Okta Sya'bani hadir membawa pengalaman dan sudut pandang masing-masing. Ada perspektif akademik, kebudayaan, pengembangan karakter, organisasi mahasiswa, hingga pengalaman kepemimpinan dalam kehidupan kampus.
Salah satu bagian penting dalam pelatihan adalah ketika kepemimpinan dibawa kembali ke dalam ruang kebudayaan Minangkabau. Mahasiswa diajak membaca kembali nilai-nilai yang sesungguhnya telah lama hidup di tengah masyarakat. Musyawarah, kebersamaan, kecakapan berbicara, kemampuan menempatkan diri, serta tanggung jawab seorang pemimpin terhadap orang yang dipimpinnya bukanlah gagasan yang asing dalam kebudayaan Minangkabau. Konsep Tungku Tigo Sajarangan, Kato Nan Ampek, serta berbagai nilai yang hidup dalam relasi penghulu, ninik mamak, dan masyarakat menunjukkan bahwa kepemimpinan memiliki akar yang panjang dalam kebudayaan Minangkabau.
Namun, mengenal akar saja tidak cukup. Mahasiswa juga diajak melihat dunia yang jauh lebih luas. Literasi, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, penguasaan informasi, serta keberanian membangun jejaring menjadi bagian penting dari kepemimpinan mahasiswa hari ini. Seorang mahasiswa Sastra Minangkabau harus mampu berdiri di antara dua ruang tersebut: berakar kuat pada kebudayaannya sekaligus memiliki keberanian untuk berjalan ke dunia yang lebih luas.
Suasana pelatihan pun tidak selalu berlangsung di antara meja, kursi, dan paparan materi. Diskusi, permainan kelompok, ice breaking, kegiatan minat dan bakat, hingga outbound kepemimpinan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengalami secara langsung bagaimana sebuah kelompok bekerja. Dalam ruang-ruang sederhana itulah mereka belajar bahwa memimpin kadang berarti berbicara, tetapi pada kesempatan lain justru berarti mendengarkan. Kadang seseorang harus berada di depan, sementara pada keadaan tertentu ia harus memberikan ruang kepada orang lain.
Pada hari terakhir, seluruh perjalanan itu bermuara pada refleksi. Mahasiswa diajak kembali melihat dirinya sendiri: sudah sejauh mana ia mengenal dirinya, nilai apa yang hendak dipertahankan, dan akan menjadi manusia seperti apa setelah meninggalkan ruang kuliah.
Pelatihan akhirnya memang selesai pada 12 Juli 2026. Pada hari terakhir ini, seluruh perjalanan itu bermuara pada refleksi. Mahasiswa diajak kembali melihat dirinya sendiri: sudah sejauh mana ia mengenal dirinya, nilai apa yang hendak dipertahankan, dan akan menjadi manusia seperti apa setelah meninggalkan ruang kuliah.
Kepemimpinan yang dibangun melalui kegiatan ini baru dimulai. Sebab menjadi pemimpin bukanlah sesuatu yang selesai dalam tiga hari. Ia adalah proses panjang untuk terus bertumbuh, sementara menjadi intelektual adalah kesediaan untuk tidak pernah berhenti belajar.
Page 1 of 2