Prodi Sastra Minangkabau Prodi Sastra Minangkabau
  • Beranda
  • Tentang
    • Profil
      • Sejarah
      • Struktur Organisasi
      • Visi dan Misi
      • Akreditasi
    • Staf
      • Pimpinan
      • Tenaga Pengajar
      • Tenaga Kependidikan
  • Karya
    • Mahasiswa
      • Karya Mahasiswa
      • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
      • Publikasi
      • Penelitian
      • Pengabdian Kepada Masyarakat
      • Kekayaan Intelektual
  • Layanan
    • Akademik
      • Kurikulum
      • Mata Kuliah
      • Kalender Akademik
      • Program MBKM
    • Kemahasiswaan
      • Biaya Pendidikan
      • Beasiswa
      • Penerimaan Mahasiswa Baru
  • Alumni
    • Kiprah Alumni
    • Direktori Alumni
    • Tracer Study
    • Registrasi Alumni
  • Penjaminan Mutu
    • Audit Mutu Internal
    • Pengukuran CPL
    • Dokumen Kurikulum
    • EWMP
    • Survei Kepuasan
  • Informasi
    • Berita
    • Agenda
    • Unduh Dokumen
    • Peraturan
    • Kerjasama
Prodi Sastra Minangkabau Prodi Sastra Minangkabau
  • Beranda
  • Tentang

    Profil

    • Sejarah
    • Struktur Organisasi
    • Visi dan Misi
    • Akreditasi

    Staf

    • Pimpinan
    • Tenaga Pengajar
    • Tenaga Kependidikan
  • Karya

    Dosen

    • Publikasi
    • Penelitian
    • Pengabdian Kepada Masyarakat
    • Kekayaan Intelektual

    Mahasiswa

    • Karya Mahasiswa
    • Prestasi Mahasiswa
  • Layanan

    Akademik

    • Kurikulum
    • Mata Kuliah
    • Kalender Akademik
    • Program MBKM

    Kemahasiswaan

    • Biaya Pendidikan
    • Beasiswa
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
  • Alumni
    • Kiprah Alumni
    • Direktori Alumni
    • Tracer Study
    • Registrasi Alumni
  • Penjaminan Mutu
    • Audit Mutu Internal
    • Pengukuran CPL
    • Dokumen Kurikulum
    • EWMP
    • Survei Kepuasan
  • Informasi

    Umum

    • Berita
    • Agenda
    • Unduh Dokumen
    • Peraturan

    Kerjasama

    • Kerjasama
Prodi Sastra Minangkabau Ajak 20 Mahasiswa The University of Osaka Belajar Budaya Minangkabau di Sijunjung
Prodi Sastra Minangkabau Ajak 20 Mahasiswa The University of Osaka Belajar Budaya Minangkabau di Sijunjung

Prodi Sastra Minangkabau Ajak 20 Mahasiswa The University of Osaka Belajar Budaya Minangkabau di Sijunjung

Details
Sep 23, 2026
Hits: 353

Sijunjung (Sasmin) — Program Studi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB UNAND), kembali menggelar summer course bersama The University of Osaka, Jepang. Sebanyak 20 mahasiswa mengikuti program bertajuk Minangkabau for the Global Community di Padang dan Sijunjung pada 17–26 September 2026.

Mengusung tema Sijunjung as a Living Archive: Integrating Manuscripts, Memory, and Cultural Ecology, kegiatan ini mengajak peserta mempelajari kebudayaan Minangkabau melalui perjumpaan langsung dengan masyarakat, pelaku budaya, dan lingkungan tempat tradisi tersebut hidup.

Peserta terdiri atas 19 mahasiswa bidang Sastra Indonesia dan satu mahasiswa bidang Persia. Mereka didampingi dosen The University of Osaka, Prof. Dr. Yumi Sugahara.

Setelah tiba di Sumatera Barat pada Kamis (17/9), peserta mengikuti pengenalan program dan kuliah umum di FIB UNAND pada Jumat (18/9). Kuliah umum menghadirkan Prof. Pramono, M.Si., Ph.D. dan Dr. Eka Meigalia, M.Hum. dari UNAND, serta Prof. Dr. Yumi Sugahara. Dekan FIB UNAND, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., membuka kegiatan tersebut.

Pembelajaran lapangan dimulai di Sijunjung pada Sabtu (19/9). Di Kampung Adat Nagari Sijunjung, peserta mengenal rumah adat, kehidupan sosial, kuliner, serta peran perempuan dalam kebudayaan Minangkabau. Mereka juga mempelajari hubungan adat dan agama Islam, mengenal naskah kuno dan silek, mewawancarai pelaku budaya, serta berlatih tari hingga menampilkan pertunjukan. Kunjungan ke Geopark Silokek Ranah Minang melengkapi pembelajaran tentang hubungan budaya dan lingkungan.

“Mahasiswa belajar dari masyarakat, lingkungan, tradisi, dan praktik budaya yang ada di tengah kehidupan sehari-hari,” ujar Ike. Menurutnya, pengalaman langsung membantu peserta memahami pengetahuan budaya dalam bentuk yang nyata.

Ketua Prodi Sastra Minangkabau FIB UNAND, Yerri Satria Putra, S.S., M.A., mengatakan program ini dirancang agar mahasiswa dapat membaca, melihat, mendengar, dan mengalami kehidupan budaya masyarakat secara langsung. “Dengan cara itu, Minangkabau dapat dipahami sebagai kebudayaan yang hidup dan terus berkembang,” katanya.

Ini merupakan penyelenggaraan kedua summer course hasil kerja sama kedua perguruan tinggi. Pada 2023, kegiatan serupa dilaksanakan di Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam.


Artikel ini merupakan unggah ulang dari unand.ac.id

Oktavia Ramadhani meraih Juara I Jurnalis Pers Mahasiswa Unand pada Dies Natalis ke-70 Universitas Andalas.
Oktavia Ramadhani meraih Juara I Jurnalis Pers Mahasiswa Unand pada Dies Natalis ke-70 Universitas Andalas.

Oktavia Ramadhani Raih Juara I Jurnalis Pers Mahasiswa Unand

Details
Sep 16, 2026
Hits: 23

Padang (Sasmin) – Mahasiswa Program Studi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Andalas, Oktavia Ramadhani, meraih Juara I Kategori Jurnalis Pers Mahasiswa di Lingkungan Universitas Andalas. Penghargaan tersebut diraih melalui artikel berjudul “Reorientasi Riset 70 Tahun Universitas Andalas, Menjaga Akar di Tanah Sendiri” dalam rangkaian peringatan Dies Natalis ke-70 Universitas Andalas.

Penghargaan diserahkan dalam Malam Anugerah Dies Natalis ke-70 Universitas Andalas yang berlangsung pada Senin, 14 September 2026, di Pangeran Beach Hotel, Padang. Dalam kategori yang sama, mahasiswa Program Studi Sejarah FIB Unand, Zaki Latif Bagia Rahman, meraih Juara II melalui artikel “5 Tahun Unand sebagai PTN-BH: Otonomi Besar, Mahasiswa Masih Disuruh Maklum.”

 

Menyoroti Arah Riset Universitas Andalas

Artikel Oktavia berangkat dari momentum 70 tahun Universitas Andalas. Alih-alih hanya menyoroti pencapaian institusi, ia mengarahkan perhatian pada pertanyaan tentang bagaimana riset Unand dikembangkan dan sejauh mana hasilnya berkaitan dengan kebutuhan masyarakat serta lingkungan di sekitarnya.

Menurut Oktavia, perkembangan perguruan tinggi tidak cukup diukur melalui pencapaian akademik. Pengetahuan yang dihasilkan melalui penelitian juga perlu memiliki keterkaitan dengan persoalan nyata dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Perjalanan 70 tahun Unand tidak hanya penting dilihat dari pencapaiannya, tetapi juga dari bagaimana arah riset Unand ke depannya dan sejauh mana riset tersebut bisa tetap dekat dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya,” ungkap Oktavia.

Pilihan isu tersebut memperlihatkan perhatiannya terhadap hubungan antara perguruan tinggi, produksi pengetahuan, dan lingkungan sosialnya. Melalui tulisan itu, Oktavia mengajak pembaca melihat peringatan Dies Natalis bukan semata-mata sebagai perayaan perjalanan institusi, melainkan juga sebagai kesempatan untuk merefleksikan arah pengembangan riset pada masa mendatang.

 

Pers Mahasiswa sebagai Ruang Belajar Kritis

Kemampuan Oktavia mengolah isu dan menyampaikannya melalui tulisan tidak terlepas dari keterlibatannya dalam UKM Genta Andalas. Selama bergabung dengan pers mahasiswa tersebut, ia terlibat dalam berbagai proses jurnalistik, mulai dari penulisan dan peliputan hingga penyuntingan, diskusi redaksi, serta pengelolaan majalah Genta Andalas.

Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk memahami proses jurnalistik sekaligus melatih kepekaan dalam membaca berbagai persoalan di lingkungan kampus. Baginya, pers mahasiswa bukan sekadar ruang untuk menulis, melainkan juga tempat belajar mengolah informasi, menguji gagasan, dan menyampaikan persoalan yang relevan bagi mahasiswa.

“Pers mahasiswa tidak hanya tentang menulis, tetapi juga bagaimana kita bisa melihat suatu isu dengan lebih kritis, melakukan proses jurnalistik dengan baik, dan menyampaikan informasi yang dibutuhkan mahasiswa,” tambah Oktavia.

Ia berharap pers mahasiswa di Universitas Andalas terus berkembang sebagai ruang belajar dan berkarya bagi mahasiswa. Pers mahasiswa, menurutnya, memiliki peran penting dalam membuka ruang bagi gagasan, memperluas diskusi, dan mendorong mahasiswa lebih peka terhadap persoalan di sekitarnya.

Harapan tersebut juga berkaitan dengan pengalamannya sendiri selama berproses di Genta Andalas. Keterlibatan dalam organisasi pers mahasiswa tidak hanya memberinya pengalaman teknis jurnalistik, tetapi juga membentuk cara pandangnya dalam memahami isu dan menyusun argumentasi.

 

Apresiasi Fakultas Ilmu Budaya

Prestasi Oktavia turut mendapat apresiasi dari Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP. Menurutnya, capaian mahasiswa melalui kegiatan pers dan penulisan menunjukkan bahwa proses pembelajaran dapat berlangsung di luar ruang kelas, termasuk melalui pengalaman berorganisasi dan menghasilkan karya.

“Kami tentu bangga atas capaian ini. Yang penting bukan hanya penghargaan yang diperoleh, melainkan proses yang mereka jalani. Menulis mengajarkan mahasiswa untuk peka, berpikir kritis, mengolah informasi, dan bertanggung jawab terhadap gagasan yang disampaikan,” ungkap Prof. Ike Revita.

Ia berharap prestasi tersebut dapat mendorong mahasiswa FIB Unand lainnya untuk terus berkarya dan memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan untuk membaca berbagai persoalan di sekitarnya.

“Apa yang mereka tulis menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki cara masing-masing dalam melihat persoalan. Kampus perlu menjadi ruang yang memberi kesempatan bagi gagasan-gagasan tersebut untuk tumbuh,” tambahnya.

Selain Oktavia, mahasiswa Program Studi Sejarah FIB Universitas Andalas, Zaki Latif Bagia Rahman, meraih Juara II dalam kategori yang sama. Melalui artikel “5 Tahun Unand sebagai PTN-BH: Otonomi Besar, Mahasiswa Masih Disuruh Maklum”, Zaki mengangkat persoalan kelembagaan Unand, khususnya hubungan antara perubahan status sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) dan pengalaman mahasiswa dalam kehidupan kampus.

Zaki berharap tulisannya dapat menjadi bagian dari percakapan konstruktif yang mendorong evaluasi dan perbaikan. Ia juga berharap Genta Andalas terus berkembang dan memberi ruang bagi semakin banyak mahasiswa untuk berani menulis serta menyampaikan gagasan melalui karya jurnalistik.

Bagi Oktavia, penghargaan ini menjadi bagian dari proses belajar dan berkarya melalui pers mahasiswa. Ia berharap Universitas Andalas terus berkembang sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga dekat dengan persoalan masyarakat. Riset yang dihasilkan, menurutnya, perlu terus memiliki keterkaitan dengan kebutuhan lingkungan dan daerah di sekitarnya.

Prestasi Oktavia menjadi kebanggaan bagi Program Studi Sastra Minangkabau, FIB Universitas Andalas. Capaian ini sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa Sastra Minangkabau dapat mengembangkan kapasitasnya melalui beragam ruang kegiatan, termasuk jurnalistik, penulisan kritis, dan organisasi kemahasiswaan.

Salah satu sesi kelas pengenalan Program Studi Sastra Minangkabau bagi mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027

Mahasiswa Baru Sastra Minangkabau Ikuti BAKTI Unand 2026, Awali Perjalanan Akademik di Kampus Limau Manis

Details
Aug 16, 2026
Hits: 312

Padang (Sasmin) – Sebanyak Mahasiswa baru Program Studi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, mengikuti rangkaian Bimbingan Aktivitas Kemahasiswaan dalam Tradisi Ilmiah (BAKTI) Unand  2026 sebagai langkah awal memasuki kehidupan akademik di Universitas Andalas.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pengenalan lingkungan kampus bagi mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027. Melalui rangkaian BAKTI, mahasiswa diperkenalkan dengan kehidupan akademik, tradisi ilmiah, budaya kampus, serta berbagai ruang pengembangan diri yang dapat diikuti selama menempuh pendidikan di Universitas Andalas.

Bagi mahasiswa baru Sastra Minangkabau, momentum tersebut menandai dimulainya perjalanan akademik untuk mendalami bahasa, sastra, dan kebudayaan Minangkabau. Mereka tidak hanya akan menjalani proses pembelajaran di ruang kuliah, tetapi juga berhadapan langsung dengan kekayaan tradisi dan dinamika kebudayaan yang menjadi bagian dari objek kajian Program Studi Sastra Minangkabau.

Sebagai salah satu program studi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Program Studi Sastra Minangkabau memiliki peran dalam pengembangan kajian bahasa, sastra, dan kebudayaan Minangkabau. Proses pendidikan yang dijalani mahasiswa diarahkan untuk membangun pemahaman akademik sekaligus kemampuan dalam membaca, mendokumentasikan, mengkaji, dan mengembangkan berbagai ekspresi kebudayaan Minangkabau dalam konteks masyarakat yang terus berubah.

Melalui BAKTI Unand 2026, mahasiswa baru juga mulai diperkenalkan dengan kehidupan sebagai bagian dari sivitas akademika Universitas Andalas. Masa peralihan dari pendidikan menengah ke perguruan tinggi menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk membangun kemandirian, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta membentuk tanggung jawab terhadap proses pendidikan yang mereka jalani.

Kegiatan BAKTI sekaligus menjadi ruang awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal sesama mahasiswa, dosen, serta lingkungan akademik yang akan menjadi bagian dari perjalanan mereka selama beberapa tahun ke depan.

Memasuki Program Studi Sastra Minangkabau juga berarti menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pengetahuan dan kebudayaan Minangkabau. Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami warisan budaya sebagai sesuatu yang berada di masa lalu, tetapi juga mampu melihat relevansinya dalam kehidupan kontemporer.

Dengan semangat tersebut, mahasiswa baru Sastra Minangkabau diharapkan dapat menjalani masa studi dengan aktif, kreatif, dan produktif. Kehidupan kampus menjadi ruang untuk mengembangkan kapasitas akademik, memperluas pengalaman, membangun jejaring, serta menghasilkan karya yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Selamat datang mahasiswa baru Sastra Minangkabau Universitas Andalas. Selamat memulai perjalanan akademik dan menjadi bagian dari generasi baru yang akan membaca, merawat, mengembangkan, dan membawa kebudayaan Minangkabau ke ruang yang lebih luas.

Foto Bersama di Akhir Sesi Materi Teknik Menulis Naskah Randai Berbasis Kaba

Ketika Kaba Berpindah ke Naskah: Belajar Menciptakan Randai dari dalam Komunitas

Details
Aug 16, 2026
Hits: 103

Padang (Sasmin) - Sebelum sebuah randai dimainkan di galanggang, ada cerita yang terlebih dahulu harus dibangun. Tokoh diberi nama, hubungan di antara mereka ditentukan, konflik disusun, percakapan dituliskan, dan perjalanan cerita dibagi ke dalam babak-babak. Kaba yang semula hidup sebagai cerita perlahan berpindah menjadi naskah, sebelum akhirnya kembali memperoleh tubuh melalui para pemain.

Proses penciptaan itulah yang menjadi pusat pertemuan ketiga program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas bersama Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati, Minggu, 16 Agustus 2026.

Jika pada pertemuan sebelumnya anggota komunitas diajak mendalami kaba dan pengetahuan yang berada di balik randai bersama Musra Dahrizal Katik Jo Mangkuto, pertemuan kali ini membawa peserta memasuki ruang penciptaan. Mereka mulai belajar bagaimana sebuah gagasan dikembangkan menjadi naskah yang dapat dimainkan.

Pelatihan menghadirkan Irwandi, S.S., M.Sn., seorang praktisi randai dan salah seorang pelatih Perguruan Seni Tradisi Singo Barantai. Latar sebagai praktisi memberi warna tersendiri pada proses pembelajaran karena naskah tidak dibicarakan semata sebagai teks sastra, tetapi sebagai teks yang sejak awal harus membayangkan kehidupan di atas galanggang.

Irwandi menempatkan naskah atau sastra sebagai salah satu dari tujuh unsur randai bersama silek, tari, dendang, musik, teater atau drama, dan artistika. Karena unsur-unsur tersebut hadir secara bersamaan dalam pertunjukan, menulis naskah randai menuntut pemahaman terhadap randai sebagai satu kesatuan. Seorang penulis perlu mengetahui bagaimana randai dimainkan dan bagaimana teks yang ditulis nantinya diterjemahkan menjadi pertunjukan.

Di sinilah menulis randai berbeda dari sekadar menuliskan sebuah cerita. Naskah biasanya berangkat dari kaba. Irwandi memperkenalkan kaba klasik yang berkisah tentang masa lampau, kerajaan, atau tokoh dengan kemampuan luar biasa, serta kaba baru yang membawa persoalan sosial masyarakat Minangkabau, seperti hubungan mamak dan kemenakan, perebutan harta warisan, dan persoalan percintaan.

Namun, kaba yang telah dipilih masih harus mengalami pengolahan. Peserta diajak menentukan ide dan sinopsis, latar kejadian, tokoh, hubungan antartokoh, watak, alur, hingga pembagian babak. Dalam proses tersebut, cerita mulai memperoleh struktur yang memungkinkan ia kelak dimainkan.

Bahasa menjadi lapisan berikutnya. Dialog randai dapat dibangun melalui prosa liris, pasambahan, pantun, mamangan, bidarai kato, gurindam, kiasan, seloka, talibun, hingga mantra. Irwandi mendorong penggunaan pantun, kiasan, mamangan, dan bentuk-bentuk bahasa tersebut dalam dialog, serta menghindari penggunaan bahasa langsung sejauh memungkinkan.

Dengan cara demikian, bahasa dalam naskah tidak hanya menyampaikan apa yang hendak dikatakan tokoh. Ia sekaligus membawa jejak estetika bertutur masyarakat Minangkabau.

Dendang juga tidak ditempatkan sebagai penghias. Ia dapat menjadi penghubung antara satu babak dengan babak berikutnya, membangun suasana sedih, haru, maupun gembira, bahkan menyampaikan bagian cerita yang sulit divisualisasikan. Penulis, karena itu, harus mulai membayangkan hubungan antara kata, suasana, gerak, dan bunyi sejak naskah masih berada dalam proses penciptaan.

Setelah memperoleh pengetahuan dasar tersebut, anggota Kuranji Sejati mulai bekerja dengan cerita mereka sendiri. Peserta berlatih menyusun kerangka cerita, menentukan tokoh, membangun dialog, dan merancang adegan. Hasil latihan kemudian dibicarakan bersama untuk memperoleh tanggapan sebelum dikembangkan lebih lanjut.

Pada tahap ini, pelatihan menemukan maknanya yang lebih penting. Anggota komunitas perlahan bergeser dari posisi sebagai orang yang memainkan cerita menuju orang yang juga mampu menciptakan cerita.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas, Yerri Satria Putra, menjelaskan bahwa kemampuan tersebut penting bagi kemandirian komunitas. Keberlanjutan randai tidak cukup hanya ditopang oleh kemampuan memainkan naskah yang telah tersedia. Komunitas juga perlu memiliki kemampuan menggali kaba, membaca persoalan sosial di sekelilingnya, kemudian mengolahnya menjadi karya baru.

Karena itu, pertemuan 16 Agustus tidak mengakhiri proses penulisan. Kerangka cerita dan latihan yang lahir dari pelatihan akan dikembangkan melalui pendampingan hingga menjadi beberapa naskah randai. Dari proses itulah regenerasi memperoleh bentuk yang lebih nyata. Tradisi tidak hanya diwariskan sebagai sesuatu yang diterima dari masa lalu, tetapi sebagai pengetahuan yang dapat dipelajari, diolah, dan diciptakan kembali.

Kelak, ketika naskah-naskah itu dibawa ke galanggang, kaba kembali memperoleh suara dan tubuh. Bedanya, kali ini cerita tersebut lahir dari tangan komunitas sendiri.

Musra Dahrizal Katik Jo Mangkuto (Mak Katik) menyampaikan materi tentang Randai.

Belajar dari Maestro: Menelusuri Kaba, Silek, dan Pengetahuan di Balik Randai

Details
Aug 09, 2026
Hits: 103

Padang (Sasmin) - Pengetahuan tentang randai tidak seluruhnya tersimpan dalam buku. Sebagiannya hidup dalam tubuh para pelaku: pada langkah silek, irama dendang, pilihan kata dalam dialog, gerak galombang, serta ingatan tentang kaba yang terus dituturkan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Pengetahuan itulah yang menjadi pusat pertemuan kedua program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas bersama Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati, Minggu, 9 Agustus 2026. Pada pertemuan ini, tim menghadirkan maestro seni tradisi Minangkabau, Musra Dahrizal Katik Jo Mangkuto atau Mak Katik, sebagai narasumber utama. Kegiatan dimoderatori sekaligus didampingi oleh Dr. Eka Meigalia, S.Hum., M.Hum.

Di hadapan anggota komunitas, Mak Katik mengajak peserta melihat randai bukan sekadar sebagai seni pertunjukan. Randai merupakan ruang pertemuan berbagai pengetahuan yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Di dalamnya terdapat silek, kaba atau cerita, dendang atau gurindam, bunyi-bunyian, laku atau akting, pakaian, serta prinsip saiyo sakato. Semua unsur tersebut saling berhubungan dalam membangun sebuah pertunjukan.

Karena itu, belajar randai berarti pula belajar memahami kebudayaan yang berada di belakangnya. Silek, misalnya, tidak hanya hadir ketika pemain melakukan adegan perkelahian. Pengetahuan silek telah terlihat ketika pemain memasuki galanggang, membentuk galombang, berdiri, berbicara, dan merespons pemain lain. Tubuh pemain menjadi tempat pengetahuan itu disimpan sekaligus diperlihatkan.

Mak Katik juga menempatkan adat salingka nagari sebagai landasan penting dalam memahami randai. Randai yang tumbuh di suatu nagari membawa pengetahuan lokal masyarakatnya. Langkah silek, bentuk galombang, bahasa, dendang, pakaian, dan unsur permainan anak nagari dapat memperlihatkan kekhasan tempat kesenian itu tumbuh.

Pembicaraan kemudian bergerak kepada kaba dan bahasa Minangkabau. Bagian ini menjadi penting karena rangkaian pendampingan Kuranji Sejati diarahkan agar komunitas tidak hanya mampu memainkan randai, tetapi juga memiliki kemampuan mengembangkan cerita dan melahirkan naskah randai sendiri.

Menulis naskah randai, dalam pandangan Mak Katik, tidak cukup dengan menyusun dialog. Penulis perlu memahami siapa yang berbicara, kepada siapa ia berbicara, bagaimana kedudukan tokoh dalam kehidupan sosial, serta bahasa seperti apa yang sesuai dengan karakter dan situasi. Ia memperkenalkan berbagai bentuk bahasa dalam cerita randai, mulai dari bahasa ibu atau bahasa palanta, pantun biasa, pantun bidarai, pantun adat, bidarai kato, hingga bidarai adat.

Dengan demikian, bahasa dalam randai tidak semata menjadi alat komunikasi. Di dalam bahasa tersimpan hubungan sosial, etika, estetika, dan cara masyarakat Minangkabau memandang kehidupan.

Pertemuan hari itu menjadi semakin menarik ketika pengetahuan yang sebelumnya dibicarakan kemudian hadir dalam bentuk pertunjukan. Mak Katik bersama mahasiswa yang sedang dibinanya melalui program Belajar Bersama Maestro menampilkan Randai Lara Sati. Saat ini, sebanyak sepuluh mahasiswa mengikuti proses pembelajaran langsung bersama Mak Katik dalam program tersebut.

Pertunjukan Lara Sati menjadikan galanggang sebagai ruang belajar. Peserta dapat melihat bagaimana silek, kaba, dendang, dialog, gerak, dan musik yang sebelumnya dibicarakan bekerja secara bersama-sama. Apa yang semula hadir sebagai penjelasan berubah menjadi pengalaman yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas, Yerri Satria Putra, menjelaskan bahwa menghadirkan maestro menjadi penting karena keberlanjutan randai tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan pertunjukan. Pengetahuan yang berada di balik pertunjukan juga perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pertemuan dengan Mak Katik sekaligus menjadi jembatan menuju tahapan berikutnya, yakni pelatihan dan pendampingan penulisan naskah randai. Anggota Kuranji Sejati diharapkan secara bertahap mampu menggali kaba, mengembangkan cerita, membangun tokoh dan konflik, menyusun dialog, hingga melahirkan karya mereka sendiri.

Di sinilah keberlanjutan tradisi menemukan maknanya. Tradisi tidak hanya bertahan karena masih dipertunjukkan, tetapi karena pengetahuan di belakangnya masih dipelajari, para maestro masih memiliki ruang untuk berbagi, dan generasi berikutnya memiliki kemauan untuk menerima, memahami, lalu mengembangkannya kembali.

Pada hari itu, galanggang Kuranji Sejati menjadi ruang tempat proses tersebut berlangsung: dari maestro kepada generasi yang belajar, dari kaba menuju pertunjukan, dan dari ingatan budaya menuju kemungkinan lahirnya karya-karya baru.

  • 1
  • 2
  • 3

Page 1 of 3

Kontak

Gedung FIB Universitas Andalas, Kampus Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatra Barat, Indonesia

Phone: +62 823-8256-5354
Email: sastraminang@hum.unand.ac.id

Senin-Jum'at : 07.300-16.00 WIB

TPL_FOLLOW_US
Youtube
Facebook
Instagram

Informasi

  • PPID
  • Pustaka
  • Pusat Bahasa
  • Universitas Andalas
  • Fakultas Ilmu Budaya
  • Smart Search
  • Direktorat Teknologi Informasi

Sistem Informasi

  • iLearn
  • Sipena
  • Wisuda
  • Portal Akademik
  • Email Institusi (Microsoft 365)

 

 

Copyright © 2025 Sastra Minangkabau