Prodi Sastra Minangkabau Prodi Sastra Minangkabau
  • Beranda
  • Tentang
    • Profil
      • Sejarah
      • Struktur Organisasi
      • Visi dan Misi
      • Akreditasi
    • Staf
      • Pimpinan
      • Tenaga Pengajar
      • Tenaga Kependidikan
  • Karya
    • Mahasiswa
      • Karya Mahasiswa
      • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
      • Publikasi
      • Penelitian
      • Pengabdian Kepada Masyarakat
      • Kekayaan Intelektual
  • Layanan
    • Akademik
      • Kurikulum
      • Mata Kuliah
      • Kalender Akademik
      • Program MBKM
    • Kemahasiswaan
      • Biaya Pendidikan
      • Beasiswa
      • Penerimaan Mahasiswa Baru
  • Alumni
    • Kiprah Alumni
    • Direktori Alumni
    • Tracer Study
    • Registrasi Alumni
  • Penjaminan Mutu
    • Audit Mutu Internal
    • Pengukuran CPL
    • Dokumen Kurikulum
    • EWMP
    • Survei Kepuasan
  • Informasi
    • Berita
    • Agenda
    • Unduh Dokumen
    • Peraturan
    • Kerjasama
Prodi Sastra Minangkabau Prodi Sastra Minangkabau
  • Beranda
  • Tentang

    Profil

    • Sejarah
    • Struktur Organisasi
    • Visi dan Misi
    • Akreditasi

    Staf

    • Pimpinan
    • Tenaga Pengajar
    • Tenaga Kependidikan
  • Karya

    Dosen

    • Publikasi
    • Penelitian
    • Pengabdian Kepada Masyarakat
    • Kekayaan Intelektual

    Mahasiswa

    • Karya Mahasiswa
    • Prestasi Mahasiswa
  • Layanan

    Akademik

    • Kurikulum
    • Mata Kuliah
    • Kalender Akademik
    • Program MBKM

    Kemahasiswaan

    • Biaya Pendidikan
    • Beasiswa
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
  • Alumni
    • Kiprah Alumni
    • Direktori Alumni
    • Tracer Study
    • Registrasi Alumni
  • Penjaminan Mutu
    • Audit Mutu Internal
    • Pengukuran CPL
    • Dokumen Kurikulum
    • EWMP
    • Survei Kepuasan
  • Informasi

    Umum

    • Berita
    • Agenda
    • Unduh Dokumen
    • Peraturan

    Kerjasama

    • Kerjasama
Sosialisasi Rencana Kegiatan oleh Tim Pengabdian kepada Perguruan Silat Kuranji Sejati

Menjaga Randai dari dalam Komunitas: Unand Memulai Pendampingan Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati

Details
Aug 02, 2026
Hits: 80

Padang (Sasmin) - Kesenian tradisional tidak hidup hanya ketika ia dipertunjukkan. Ia hidup dalam ingatan orang-orang yang menjaganya, dalam tubuh yang terus berlatih, dalam cerita yang dituturkan kembali, dan dalam pengetahuan yang berpindah perlahan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Di dalam ruang seperti itulah randai bertahan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau.

Kesadaran tersebut menjadi pijakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas bersama Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati yang dimulai pada Minggu, 2 Agustus 2026. Pertemuan pertama ini menjadi awal dari rangkaian pendampingan yang diarahkan pada penguatan kapasitas komunitas dalam mengembangkan randai, mendokumentasikan pengetahuan budaya, serta memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas ruang hidup kesenian.

Program pendampingan direncanakan berlangsung selama beberapa bulan dan dilaksanakan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat LPPM Universitas Andalas. Tim diketuai oleh Yerri Satria Putra, S.S., M.A., dengan anggota Dr. Eka Meigalia, S.Hum., M.Hum., Pramawahyudi, S.Kom., M.T., dan Okta Firmansyah, M.Hum.

Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa lintas program studi sebagai asisten lapangan, yaitu Muhammad Shadra Shirazzi Putra dari Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Wira Santika, Khairunnisa Nabila, Nazila Zeri, dan Muchtarizal dari Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya; serta Puti Raudhatuzzahra dari Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Komposisi tersebut mempertemukan perspektif kebudayaan, teknologi, manajemen, dan administrasi dalam satu kerja pendampingan bersama masyarakat.

Pertemuan pertama tidak langsung dimulai dengan pelatihan. Tim memilih untuk terlebih dahulu mendengar dan mengenali komunitas dari dekat. Setelah pembukaan dan sosialisasi program, kegiatan bergerak ke dalam diskusi mengenai kondisi, potensi, dan kebutuhan Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati. Percakapan kemudian dilanjutkan melalui wawancara mendalam dan pengambilan dokumentasi sebagai bahan pengembangan konten situs web komunitas.

Pilihan untuk memulai dengan mendengar menjadi penting karena keberlanjutan kesenian tradisional tidak dapat dilepaskan dari orang-orang yang menjalani tradisi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Komunitas bukan semata objek pelestarian, melainkan pemilik pengetahuan sekaligus pelaku utama yang menentukan bagaimana pengetahuan itu akan diteruskan.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Yerri Satria Putra, menjelaskan bahwa persoalan yang dihadapi Kuranji Sejati bukan terletak pada ketiadaan aktivitas. Komunitas masih memiliki anggota, latihan masih berlangsung, dan randai masih dipertunjukkan. Modal sosial dan budaya tersebut justru menjadi kekuatan utama yang perlu dikembangkan.

Tantangannya terletak pada bagaimana pengetahuan yang selama ini hidup melalui praktik dapat terus dikembangkan menjadi pengetahuan dan karya yang dapat diwariskan. Dalam konteks randai, persoalan tersebut menjadi penting karena sebuah pertunjukan mempertemukan banyak unsur kebudayaan Minangkabau sekaligus. Di dalamnya terdapat kaba, dialog, dendang, musik, gerak, dan silek yang saling berkelindan membangun sebuah pertunjukan.

Karena itu, menjaga randai tidak cukup dimaknai sebagai menjaga sebuah bentuk pertunjukan. Di dalam randai terdapat pengetahuan tentang bahasa, cerita, tubuh, musik, hubungan sosial, serta cara masyarakat Minangkabau menafsirkan pengalaman kehidupannya. Ketika sebuah komunitas randai tumbuh, sesungguhnya terdapat sejumlah pengetahuan budaya yang ikut memperoleh ruang untuk terus hidup.

Atas dasar itu, program pengabdian dirancang tidak berhenti pada pemberian pelatihan. Pendampingan diarahkan agar komunitas secara bertahap memiliki kemampuan untuk mengembangkan karya, mendokumentasikan pengetahuan yang mereka miliki, dan membangun kemandirian dalam mengelola aktivitas kesenian.

Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan situs web komunitas. Dalam pertemuan 2 Agustus, tim melakukan wawancara mendalam untuk menggali sejarah perguruan, aktivitas kesenian, pengalaman anggota, serta berbagai pengetahuan yang nantinya dapat dikembangkan menjadi konten digital.

Situs web dalam program ini tidak dirancang sekadar sebagai halaman informasi. Ia diharapkan menjadi ruang tempat jejak perjalanan komunitas dihimpun. Profil perguruan, dokumentasi latihan dan pertunjukan, karya, aktivitas anggota, serta pengetahuan budaya dapat disimpan dan diperkenalkan kepada masyarakat secara lebih terstruktur.

Dalam perspektif yang lebih luas, dokumentasi digital juga menjadi bagian dari upaya mempertemukan tradisi dengan perubahan zaman. Pengetahuan yang sebelumnya lebih banyak beredar di lingkungan internal komunitas memperoleh kemungkinan untuk menjangkau ruang yang lebih luas tanpa harus melepaskan komunitas dari akar sosial dan budayanya.

Identitas digital yang dikelola secara profesional pada akhirnya juga dapat menjadi modal sosial baru bagi Kuranji Sejati. Melalui ruang tersebut, komunitas dapat membangun jejaring, memperkenalkan portofolio pertunjukan, membuka peluang kerja sama, serta secara bertahap mengembangkan aktivitas ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya. Teknologi, dalam konteks ini, tidak ditempatkan sebagai pengganti tradisi, tetapi sebagai medium yang membantu tradisi menemukan ruang hidup baru.

Ketua Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati, M. Zen, menyambut program pendampingan tersebut dan menyampaikan terima kasih kepada Universitas Andalas atas keterlibatan perguruan tinggi dalam mendampingi pengembangan komunitas mereka.

Pertemuan 2 Agustus menjadi tahap awal untuk membaca kebutuhan tersebut secara bersama-sama. Setelah pemetaan dilakukan, rangkaian kegiatan akan bergerak pada penguatan kapasitas penciptaan karya. Anggota komunitas akan memperoleh penguatan pemahaman mengenai kaba sebagai sumber penciptaan randai, teknik penulisan naskah randai berbahasa Minangkabau, penyusunan kerangka cerita, penciptaan tokoh, dialog dan adegan, hingga pendampingan dalam proses penulisan naskah.

Arah tersebut berangkat dari pemahaman bahwa kaba menempati posisi penting dalam kehidupan randai. Kaba menyediakan dunia cerita tempat tokoh, konflik, nilai, dan pengalaman sosial masyarakat memperoleh bentuk naratif. Kemampuan komunitas untuk mengolah sumber tersebut menjadi naskah baru menjadi salah satu jalan untuk memastikan randai tidak hanya mengulang karya yang telah ada, tetapi terus memiliki kemungkinan untuk melahirkan karya dari tangan komunitas sendiri.

Pada titik inilah pengabdian kepada masyarakat menemukan maknanya bukan sebagai kegiatan yang datang membawa pengetahuan dari luar, melainkan sebagai proses mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengetahuan yang telah lama hidup di tengah komunitas.

Perguruan tinggi dapat menghadirkan metode, teknologi, pendampingan, dan jejaring. Namun, ingatan tentang kaba, pengalaman memainkan randai, pengetahuan tentang silek, dendang, musik, dan kehidupan komunitas tetap berada pada orang-orang yang menjalaninya.

Dari perjumpaan keduanya, diharapkan tumbuh sebuah proses pemberdayaan yang tidak mencabut tradisi dari pemiliknya. Sebaliknya, komunitas diperkuat agar semakin mampu mengenali pengetahuan yang mereka miliki, mengembangkannya menjadi karya, mendokumentasikannya, serta memperkenalkannya kepada dunia yang lebih luas.

Sebab keberlanjutan sebuah tradisi pada akhirnya tidak hanya dapat dihitung dari berapa kali ia dipertunjukkan. Ia juga dapat dilihat dari apakah masih ada orang yang mempelajarinya, menuturkannya kembali, menciptakan karya baru darinya, dan merasa bahwa tradisi tersebut masih memiliki arti bagi kehidupan mereka hari ini.

Foto Bersama Peserta Pelatihan dan Narasumber di Akhir Acara

Bertumbuh sebagai Pemimpin, Berkembang sebagai Intelektual

Details
Jul 13, 2026
Hits: 80

Padang (Sasmin) - Menjadi pemimpin tidak selalu dimulai dari sebuah jabatan. Ia sering kali bermula dari hal-hal sederhana: keberanian mengambil tanggung jawab, kesediaan mendengarkan orang lain, kemampuan bekerja bersama, dan kemauan untuk terus belajar. Kesadaran inilah yang menjadi semangat penyelenggaraan Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Tahun 2026 oleh Program Studi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

Kegiatan yang mengusung tema “Bertumbuh sebagai Pemimpin, Berkembang sebagai Intelektual” ini dilaksanakan selama tiga hari, Jumat hingga Minggu, 10 hingga 12 Juli 2026, di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Sebanyak 75 mahasiswa Program Studi Sastra Minangkabau mengikuti kegiatan sejak pukul 08.00 hingga 17.30 WIB setiap harinya.

Dalam sambutannya, Yerri Satria Putra, S.S., M.A. Ketua Program Studi Sastra Minangkabau, Pelatihan ini dirancang dengan satu kesadaran bahwa mahasiswa Sastra Minangkabau tidak cukup hanya dibekali kemampuan akademik. Mereka juga perlu memiliki karakter yang kuat, kemampuan bekerja sama, keluasan wawasan, keberanian mengambil keputusan, serta kecakapan membaca perubahan zaman. Di atas semua itu, mereka perlu memahami akar kebudayaan yang menjadi bagian dari identitas keilmuan mereka.

Karena itu, kepemimpinan dalam kegiatan ini tidak diperkenalkan sebagai perkara bagaimana seseorang memerintah orang lain. Kepemimpinan justru dimulai dari kemampuan mengelola diri sendiri. Dari sana, mahasiswa belajar mengelola kelompok, memahami organisasi, membangun komunikasi, menyelesaikan persoalan, dan mengambil tanggung jawab atas keputusan yang dibuat.

Berbagai perspektif dihadirkan selama pelatihan. Prof. Pramono, M.Si., Ph.D., Musra Dahrizal Katik Jo Mangkuto, Yerri Satria Putra, S.S., M.A., Dr. Herry Nur Hidayat, S.S., M.Hum., Dr. Eka Meigalia, S.Hum., M.Hum., Sehla Rizqa Ramadhona, S.S., M.A., Wira Santika, dan Ardian Okta Sya'bani hadir membawa pengalaman dan sudut pandang masing-masing. Ada perspektif akademik, kebudayaan, pengembangan karakter, organisasi mahasiswa, hingga pengalaman kepemimpinan dalam kehidupan kampus.

Salah satu bagian penting dalam pelatihan adalah ketika kepemimpinan dibawa kembali ke dalam ruang kebudayaan Minangkabau. Mahasiswa diajak membaca kembali nilai-nilai yang sesungguhnya telah lama hidup di tengah masyarakat. Musyawarah, kebersamaan, kecakapan berbicara, kemampuan menempatkan diri, serta tanggung jawab seorang pemimpin terhadap orang yang dipimpinnya bukanlah gagasan yang asing dalam kebudayaan Minangkabau. Konsep Tungku Tigo Sajarangan, Kato Nan Ampek, serta berbagai nilai yang hidup dalam relasi penghulu, ninik mamak, dan masyarakat menunjukkan bahwa kepemimpinan memiliki akar yang panjang dalam kebudayaan Minangkabau.

Namun, mengenal akar saja tidak cukup. Mahasiswa juga diajak melihat dunia yang jauh lebih luas. Literasi, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, penguasaan informasi, serta keberanian membangun jejaring menjadi bagian penting dari kepemimpinan mahasiswa hari ini. Seorang mahasiswa Sastra Minangkabau harus mampu berdiri di antara dua ruang tersebut: berakar kuat pada kebudayaannya sekaligus memiliki keberanian untuk berjalan ke dunia yang lebih luas.

Suasana pelatihan pun tidak selalu berlangsung di antara meja, kursi, dan paparan materi. Diskusi, permainan kelompok, ice breaking, kegiatan minat dan bakat, hingga outbound kepemimpinan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengalami secara langsung bagaimana sebuah kelompok bekerja. Dalam ruang-ruang sederhana itulah mereka belajar bahwa memimpin kadang berarti berbicara, tetapi pada kesempatan lain justru berarti mendengarkan. Kadang seseorang harus berada di depan, sementara pada keadaan tertentu ia harus memberikan ruang kepada orang lain.

Pada hari terakhir, seluruh perjalanan itu bermuara pada refleksi. Mahasiswa diajak kembali melihat dirinya sendiri: sudah sejauh mana ia mengenal dirinya, nilai apa yang hendak dipertahankan, dan akan menjadi manusia seperti apa setelah meninggalkan ruang kuliah.

Pelatihan akhirnya memang selesai pada 12 Juli 2026. Pada hari terakhir ini, seluruh perjalanan itu bermuara pada refleksi. Mahasiswa diajak kembali melihat dirinya sendiri: sudah sejauh mana ia mengenal dirinya, nilai apa yang hendak dipertahankan, dan akan menjadi manusia seperti apa setelah meninggalkan ruang kuliah.

Kepemimpinan yang dibangun melalui kegiatan ini baru dimulai. Sebab menjadi pemimpin bukanlah sesuatu yang selesai dalam tiga hari. Ia adalah proses panjang untuk terus bertumbuh, sementara menjadi intelektual adalah kesediaan untuk tidak pernah berhenti belajar.

Dosen Prodi Sastra Minangkabau di Nagari Simalanggang dan Nagari Taeh Baruah

Ketika Cerita Harus Terus Dituturkan: Merawat Tradisi Lisan di Lima Puluh Kota

Details
May 18, 2026
Hits: 51

Lima Puluh Kota (Sasmin) - Sebuah nagari tidak hanya dibangun oleh jalan, rumah, sawah, dan batas wilayah. Nagari juga dibangun oleh ingatan. Ada cerita tentang asal-usul kampung, nama tempat, perjalanan para pendahulu, petuah adat, serta pengalaman hidup yang dituturkan berulang-ulang dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Ingatan itulah yang membuat sebuah nagari memiliki identitas.

Di Minangkabau, sebagian ingatan tersebut hidup melalui tradisi lisan. Kaba, pantun, petatah-petitih, mamangan, cerita asal-usul, kisah tokoh, dan berbagai tuturan adat menjadi jalan bagi masyarakat untuk mengenali masa lalunya. Persoalannya, tidak semua yang pernah dituturkan telah dituliskan. Banyak pengetahuan masih tersimpan dalam ingatan ninik mamak, bundo kanduang, alim ulama, pelaku budaya, dan orang-orang tua di nagari.

Persoalan inilah yang menjadi perhatian Program Studi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, ketika melaksanakan kegiatan Pendampingan Komunitas Budaya dalam Pelestarian Tradisi Lisan di Nagari Simalanggang dan Nagari Taeh Baruah, Kabupaten Lima Puluh Kota, pada 16 sampai 17 Mei 2026.

Simalanggang dan Taeh Baruah merupakan dua nagari yang memiliki jejak sejarah dan kebudayaan yang panjang. Di tengah masyarakat masih hidup berbagai cerita mengenai asal-usul nagari, tokoh adat, hubungan antar kampung, situs budaya, serta perjalanan kehidupan masyarakat pada masa lalu. Sebagian dapat ditemukan dalam catatan tertulis, tetapi banyak pula yang hanya dapat ditemukan dengan mendengarkan masyarakat bercerita.

Karena itulah kegiatan pengabdian dilakukan dengan mendatangi masyarakat. Tim berbincang dengan tokoh adat dan tokoh masyarakat, mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah, mendengarkan cerita, mencatat informasi, serta mendokumentasikan pengetahuan yang masih tersimpan dalam ingatan masyarakat.

Dalam perjumpaan-perjumpaan itu terasa bahwa tradisi lisan sesungguhnya belum mati. Cerita masih ada. Orang-orang yang mengingatnya juga masih ada. Persoalan yang mulai muncul adalah semakin terbatasnya ruang tempat cerita tersebut dituturkan.

Perubahan cara hidup membuat proses pewarisan tidak lagi berlangsung seperti dahulu. Generasi muda tumbuh dalam lingkungan komunikasi yang berbeda. Telepon pintar menghadirkan dunia yang nyaris tidak berbatas, sementara kesempatan duduk bersama orang tua untuk mendengarkan cerita tentang nagari justru semakin sedikit. Jika keadaan ini dibiarkan, sebuah generasi mungkin masih mengenal nama tempat tinggalnya, tetapi perlahan kehilangan cerita yang menjelaskan mengapa tempat itu bernama demikian.

Pendampingan karena itu tidak dimaksudkan untuk mengajari masyarakat tentang kebudayaan mereka sendiri. Masyarakat adalah pemilik pengetahuan tersebut. Perguruan tinggi hadir sebagai mitra yang membantu membuka ruang perjumpaan, mendokumentasikan pengetahuan, serta mendorong kesadaran bahwa sesuatu yang selama ini dianggap biasa ternyata merupakan warisan budaya yang sangat berharga.

Ada suasana menarik ketika para narasumber mulai bercerita. Satu cerita sering mengundang cerita lainnya. Nama seseorang membawa ingatan kepada peristiwa tertentu. Sebuah tempat membuka kisah tentang masa lalu. Dari percakapan semacam itulah terlihat bahwa tradisi lisan sebenarnya merupakan arsip hidup. Ia tersimpan bukan di rak perpustakaan, melainkan dalam ingatan manusia.

Kegiatan ini dilaksanakan bersama tim dosen Program Studi Sastra Minangkabau, yaitu Yerri Satria Putra, S.S., M.A. bertindak sebagai Ketua Program, dengan anggota yakni, Dr. Reniwati, M.Hum., Dr. Satya Gayatri, M.Hum., Dr. Lindawati, M.Hum., Dr. Eka Meigalia, M.Hum., Dr. Rona Almos, M.Hum., Bahren, S.S., M.A., Okta Firmansyah, S.Hum., M.Hum., Sehla Rizqa Ramadhona, S.S., M.A., Lastry Monika, S.Hum., M.Hum., dan Dr. Herry Nur Hidayat, M.Hum. Mahasiswa Program Studi Sastra Minangkabau juga mengambil bagian, di antaranya Wira Santika, Nurul Fadila, Yuzi Febriani, Rahul Andelson, Nazila Zeri, Muhammad Rijalul Ihsan, dan Muchtarizal, serta mahasiswa lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Keterbukaan masyarakat Nagari Simalanggang dan Nagari Taeh Baruah, ninik mamak, tokoh adat, tokoh masyarakat, pelaku budaya, narasumber, dan masyarakat menjadi bagian terpenting dari kegiatan tersebut. Mereka tidak sekadar memberikan informasi, tetapi membuka pintu menuju ingatan kolektif nagari.

Bagi mahasiswa, pengalaman ini juga menjadi ruang belajar yang berbeda. Tradisi lisan yang biasanya dibicarakan melalui buku dan ruang kuliah hadir di hadapan mereka sebagai sesuatu yang hidup. Mereka belajar bahwa satu cerita memerlukan kesabaran untuk didengarkan, satu istilah adat membutuhkan konteks untuk dipahami, dan satu pengetahuan lokal tidak selalu dapat diterjemahkan hanya melalui definisi.

Kegiatan dua hari tentu tidak cukup untuk mendokumentasikan seluruh kekayaan tradisi lisan Simalanggang dan Taeh Baruah. Justru kegiatan ini memperlihatkan betapa luas pekerjaan yang masih perlu dilakukan. Dokumentasi perlu dilanjutkan, arsip budaya perlu dibangun, dan generasi muda perlu semakin dilibatkan.

Sebab pelestarian tradisi lisan bukan sekadar menyimpan rekaman suara atau menuliskan cerita ke dalam buku. Pelestarian yang paling penting adalah membuat tradisi itu tetap mempunyai orang yang menuturkan dan generasi yang bersedia mendengarkan.

Pada akhirnya, masa depan tradisi lisan berada pada perjumpaan antara keduanya. Selama cerita nagari masih dituturkan dan masih ada telinga yang bersedia mendengarkannya, ingatan itu belum terputus. Dan selama ingatan belum terputus, sebuah nagari masih mempunyai jalan untuk pulang kepada akar kebudayaannya.

Ciptakan Budaya Inklusif, Dosen Sastra Minangkabau FIB Unand Luncurkan Kamus Digital IntelekTuli

Details
Dec 06, 2023
Hits: 169

Padang (Unand) - Dalam rangka mendukung hak-hak penyandang disabilitas dan menciptakan budaya inklusif forum ilmiah IntelekTuli Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Andalas meluncurkan Laman kamus bahasa isyarat digital IntelekTuli pada Rabu (6/12).

Berlangsung di Hotel Truntum Padang, Rona Almos selaku ketua forum IntelekTuli menyampaikan peluncuran kamus digital ini merupakan wujud dari kesadaran terbatasnya jumlah juru bahasa isyarat untuk lebih dari seribu penyandang tuli di Sumatra Barat.

“Kamus ini diciptakan sebagai alat komunikasi yang dapat diakses secara luas dan mandiri,”sambungnya. Menurutnya, laman ini merupakan salah satu wujud dari usaha untuk memenuhi kebutuhan teman-teman penyandang tuli, baik itu di lingkungan pendidikan, lingkungan kerja, dan transportasi umum.

Dikatakannya, kamus bahasa isyarat digital IntelekTuli ini hasil penelitian tahun pertama dari tiga tahun yang direncanakan, kamus yang bersifat tematik ini bertema pengajaran dan pembelajaran.

“Tahun kedua, tema pelayanan publik, dan tahun ketiga tema alam, lingkungan, dan rumah tangga,” tambahnya.  Kamus bahasa isyarat digital IntelekTuli dikatakannya juga merupakan kamus bahasa isyarat berbasis BISINDO pertama di Indonesia. 

Wakil Dekan II Lady Diana Yusri, SS, M. Hum menyampaikan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas sangat terbuka terhadap penyandang disabilitas, hal ini dibuktikan dengan hadirnya forum IntelekTuli dan mahasiswa disabilitas yang terlibat dalam forum ini.

Ia berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran Orang Dengar (OD) terhadap teman-teman tuli. Peluncuran laman ini juga mendapat dukungan penuh dari sekretaris LPPM Universitas Andalas Dr. apt. Friardi Ismet. Ia melihat penelitian humaniora yang masih minim dan berharap IntelekTuli ini dapat menjadi penelitian unggulan dari ilmu humaniora.

Baginya, hal ini sangat inovatif dan aplikatif, semoga bisa menjadi penelitian yang berkelanjutan untuk menjadi produk unggulan dari Universitas Andalas.

“Keramahan kampus terhadap penyandang disabilitas juga merupakan poin penting yang harus dicapai untuk mewujudkan universitas berkelas internasional,” pungkasnya.


Artikel ini merupakan unggah ulang dari unand.ac.id

Mahasiswa Osaka University sedang mempelajari kekayaan gastronomi Minangkabau
Mahasiswa Osaka University sedang mempelajari kekayaan gastronomi Minangkabau

Eksplorasi Budaya di Maninjau, Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand Berkolaborasi dengan Osaka Univerisity

Details
Aug 29, 2023
Hits: 190

Agam (Padangkita.com) - Sebanyak 16 orang mahasiswa dari Osaka University, Jepang bersama dosen pembimbing, Prof. Dr. Yumi Sugahara, mengikuti program summer course Minangkabau For The Global Community (MGC) selama 10 hari (22-31 Agustus 2023) di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Maninjau, Agam.

Ini merupakan kolaborasi Program Studi Sastra Minangkabau Universitas Andalas (Unand) dengan Osaka University, untuk mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema Eksplorasi Keragaman Budaya Minangkabau Untuk Pengembangan Pariwisata Daerah.

Sesuai dengan temanya, dalam kegiatan ini dilakukan penelusuran dan pendataan terhadap kekayaan budaya Minangkabau di kawasan tersebut.

Selain itu, para tim melakukan dialog dalam rangka penyuluhan kepada masyarakat sekitar dalam rangka memberikan penyegaran terkait pengembangan potensi budaya dan kuliner Minangkabau untuk peningkatan sektor pariwisata daerah.

Ketua Program Studi Sastra Minangkabau, Yerri Satria Putra, menjelaskan kegiatan ini merupakan bentuk peran aktif Progam Studi Sastra Minangkabau, dan seluruh civitas akademik Sastra Minangkabau dalam mensukseskan program-program pemerintah.

"Sebagaimana yang tertuang dalam butir-butir tugas dan tanggung jawab Tri Dharma Perguruan Tinggi. Perkembangan kehidupan sosial dan budaya umumnya, dan kebudayaan Minangkabau pada khususnya, menjadi perhatian utama bagi Program Studi Sastra Minangkabau dalam membuat dan menjalankan suatu kegiatan." jelasnya lewat keterangan tertulis, Selasa (29/8/2023).

Terlebih, sambungnya, pada masa ini, di mana perkembangan teknologi sangat pesat dan telah menciptakan suatu ruang publik yang tidak dapat dikendalikan, memberi kesempatan kepada siapa saja memamerkan sesuatu menjadi sebuah tontonan umum.

"Syukur-syukur jika yang dipamerkan, itu suatu yang positif, seperti misalnya kekayaan ragam budaya, seni dan tradisi Minangkabau yang dimiliki oleh masyarakat, tetapi akan menjadi masalah apabila yang dipamerkan adalah suatu yang negatif, tentu akan timbul gejolak sosial yang berdampak buruk bagi citra Nagari." sambungnya.

Pada kesempatan tersebut juga, diserahkan sumbangan buku-buku bacaan untuk Rumah Baca Buya Hamka. Buku-buku bacaan tersebut merupakan karya-karya dari para dosen di Program Studi Sastra Minangkabau.

"Kita berharap buku-buku tersebut dapat memperkaya dan melengkapi koleksi bacaan keminangkabauan yang dimiliki oleh Rumah Baca Buya Hamka." pungkasnya.

Sebelumnya, Program Studi Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unand meluncurkan program summer course “Minangkabau For The Global Community (MGC)”, Rabu, (23/8/2023) di Kampus Limau Manih Padang.

Mereka diajak mengunjungi rumah sekaligus perpustakaan HAKA (Haji Abdul Karim Amrullah) untuk melihat koleksi kitab-kitab lama peninggalan HAKA. 

Selain itu mereka juga akan praktik kesenian tambua tasa bersama grup-grup kesenian di sana, juga mempelajari proses pembuatan ragam kuliner Minangkabau. [*/hdp]


Artikel ini merupakan unggah ulang dari padangkita.com

  • 1
  • 2
  • 3

Page 2 of 3

Kontak

Gedung FIB Universitas Andalas, Kampus Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatra Barat, Indonesia

Phone: +62 823-8256-5354
Email: sastraminang@hum.unand.ac.id

Senin-Jum'at : 07.300-16.00 WIB

TPL_FOLLOW_US
Youtube
Facebook
Instagram

Informasi

  • PPID
  • Pustaka
  • Pusat Bahasa
  • Universitas Andalas
  • Fakultas Ilmu Budaya
  • Smart Search
  • Direktorat Teknologi Informasi

Sistem Informasi

  • iLearn
  • Sipena
  • Wisuda
  • Portal Akademik
  • Email Institusi (Microsoft 365)

 

 

Copyright © 2025 Sastra Minangkabau