Padang (Sasmin) - Sebelum sebuah randai dimainkan di galanggang, ada cerita yang terlebih dahulu harus dibangun. Tokoh diberi nama, hubungan di antara mereka ditentukan, konflik disusun, percakapan dituliskan, dan perjalanan cerita dibagi ke dalam babak-babak. Kaba yang semula hidup sebagai cerita perlahan berpindah menjadi naskah, sebelum akhirnya kembali memperoleh tubuh melalui para pemain.

Proses penciptaan itulah yang menjadi pusat pertemuan ketiga program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas bersama Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati, Minggu, 16 Agustus 2026.

Jika pada pertemuan sebelumnya anggota komunitas diajak mendalami kaba dan pengetahuan yang berada di balik randai bersama Musra Dahrizal Katik Jo Mangkuto, pertemuan kali ini membawa peserta memasuki ruang penciptaan. Mereka mulai belajar bagaimana sebuah gagasan dikembangkan menjadi naskah yang dapat dimainkan.

Pelatihan menghadirkan Irwandi, S.S., M.Sn., seorang praktisi randai dan salah seorang pelatih Perguruan Seni Tradisi Singo Barantai. Latar sebagai praktisi memberi warna tersendiri pada proses pembelajaran karena naskah tidak dibicarakan semata sebagai teks sastra, tetapi sebagai teks yang sejak awal harus membayangkan kehidupan di atas galanggang.

Irwandi menempatkan naskah atau sastra sebagai salah satu dari tujuh unsur randai bersama silek, tari, dendang, musik, teater atau drama, dan artistika. Karena unsur-unsur tersebut hadir secara bersamaan dalam pertunjukan, menulis naskah randai menuntut pemahaman terhadap randai sebagai satu kesatuan. Seorang penulis perlu mengetahui bagaimana randai dimainkan dan bagaimana teks yang ditulis nantinya diterjemahkan menjadi pertunjukan.

Di sinilah menulis randai berbeda dari sekadar menuliskan sebuah cerita. Naskah biasanya berangkat dari kaba. Irwandi memperkenalkan kaba klasik yang berkisah tentang masa lampau, kerajaan, atau tokoh dengan kemampuan luar biasa, serta kaba baru yang membawa persoalan sosial masyarakat Minangkabau, seperti hubungan mamak dan kemenakan, perebutan harta warisan, dan persoalan percintaan.

Namun, kaba yang telah dipilih masih harus mengalami pengolahan. Peserta diajak menentukan ide dan sinopsis, latar kejadian, tokoh, hubungan antartokoh, watak, alur, hingga pembagian babak. Dalam proses tersebut, cerita mulai memperoleh struktur yang memungkinkan ia kelak dimainkan.

Bahasa menjadi lapisan berikutnya. Dialog randai dapat dibangun melalui prosa liris, pasambahan, pantun, mamangan, bidarai kato, gurindam, kiasan, seloka, talibun, hingga mantra. Irwandi mendorong penggunaan pantun, kiasan, mamangan, dan bentuk-bentuk bahasa tersebut dalam dialog, serta menghindari penggunaan bahasa langsung sejauh memungkinkan.

Dengan cara demikian, bahasa dalam naskah tidak hanya menyampaikan apa yang hendak dikatakan tokoh. Ia sekaligus membawa jejak estetika bertutur masyarakat Minangkabau.

Dendang juga tidak ditempatkan sebagai penghias. Ia dapat menjadi penghubung antara satu babak dengan babak berikutnya, membangun suasana sedih, haru, maupun gembira, bahkan menyampaikan bagian cerita yang sulit divisualisasikan. Penulis, karena itu, harus mulai membayangkan hubungan antara kata, suasana, gerak, dan bunyi sejak naskah masih berada dalam proses penciptaan.

Setelah memperoleh pengetahuan dasar tersebut, anggota Kuranji Sejati mulai bekerja dengan cerita mereka sendiri. Peserta berlatih menyusun kerangka cerita, menentukan tokoh, membangun dialog, dan merancang adegan. Hasil latihan kemudian dibicarakan bersama untuk memperoleh tanggapan sebelum dikembangkan lebih lanjut.

Pada tahap ini, pelatihan menemukan maknanya yang lebih penting. Anggota komunitas perlahan bergeser dari posisi sebagai orang yang memainkan cerita menuju orang yang juga mampu menciptakan cerita.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas, Yerri Satria Putra, menjelaskan bahwa kemampuan tersebut penting bagi kemandirian komunitas. Keberlanjutan randai tidak cukup hanya ditopang oleh kemampuan memainkan naskah yang telah tersedia. Komunitas juga perlu memiliki kemampuan menggali kaba, membaca persoalan sosial di sekelilingnya, kemudian mengolahnya menjadi karya baru.

Karena itu, pertemuan 16 Agustus tidak mengakhiri proses penulisan. Kerangka cerita dan latihan yang lahir dari pelatihan akan dikembangkan melalui pendampingan hingga menjadi beberapa naskah randai. Dari proses itulah regenerasi memperoleh bentuk yang lebih nyata. Tradisi tidak hanya diwariskan sebagai sesuatu yang diterima dari masa lalu, tetapi sebagai pengetahuan yang dapat dipelajari, diolah, dan diciptakan kembali.

Kelak, ketika naskah-naskah itu dibawa ke galanggang, kaba kembali memperoleh suara dan tubuh. Bedanya, kali ini cerita tersebut lahir dari tangan komunitas sendiri.