Padang (Sasmin) - Menjadi pemimpin tidak selalu dimulai dari sebuah jabatan. Ia sering kali bermula dari hal-hal sederhana: keberanian mengambil tanggung jawab, kesediaan mendengarkan orang lain, kemampuan bekerja bersama, dan kemauan untuk terus belajar. Kesadaran inilah yang menjadi semangat penyelenggaraan Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Tahun 2026 oleh Program Studi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

Kegiatan yang mengusung tema “Bertumbuh sebagai Pemimpin, Berkembang sebagai Intelektual” ini dilaksanakan selama tiga hari, Jumat hingga Minggu, 10 hingga 12 Juli 2026, di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Sebanyak 75 mahasiswa Program Studi Sastra Minangkabau mengikuti kegiatan sejak pukul 08.00 hingga 17.30 WIB setiap harinya.

Dalam sambutannya, Yerri Satria Putra, S.S., M.A. Ketua Program Studi Sastra Minangkabau, Pelatihan ini dirancang dengan satu kesadaran bahwa mahasiswa Sastra Minangkabau tidak cukup hanya dibekali kemampuan akademik. Mereka juga perlu memiliki karakter yang kuat, kemampuan bekerja sama, keluasan wawasan, keberanian mengambil keputusan, serta kecakapan membaca perubahan zaman. Di atas semua itu, mereka perlu memahami akar kebudayaan yang menjadi bagian dari identitas keilmuan mereka.

Karena itu, kepemimpinan dalam kegiatan ini tidak diperkenalkan sebagai perkara bagaimana seseorang memerintah orang lain. Kepemimpinan justru dimulai dari kemampuan mengelola diri sendiri. Dari sana, mahasiswa belajar mengelola kelompok, memahami organisasi, membangun komunikasi, menyelesaikan persoalan, dan mengambil tanggung jawab atas keputusan yang dibuat.

Berbagai perspektif dihadirkan selama pelatihan. Prof. Pramono, M.Si., Ph.D., Musra Dahrizal Katik Jo Mangkuto, Yerri Satria Putra, S.S., M.A., Dr. Herry Nur Hidayat, S.S., M.Hum., Dr. Eka Meigalia, S.Hum., M.Hum., Sehla Rizqa Ramadhona, S.S., M.A., Wira Santika, dan Ardian Okta Sya'bani hadir membawa pengalaman dan sudut pandang masing-masing. Ada perspektif akademik, kebudayaan, pengembangan karakter, organisasi mahasiswa, hingga pengalaman kepemimpinan dalam kehidupan kampus.

Salah satu bagian penting dalam pelatihan adalah ketika kepemimpinan dibawa kembali ke dalam ruang kebudayaan Minangkabau. Mahasiswa diajak membaca kembali nilai-nilai yang sesungguhnya telah lama hidup di tengah masyarakat. Musyawarah, kebersamaan, kecakapan berbicara, kemampuan menempatkan diri, serta tanggung jawab seorang pemimpin terhadap orang yang dipimpinnya bukanlah gagasan yang asing dalam kebudayaan Minangkabau. Konsep Tungku Tigo Sajarangan, Kato Nan Ampek, serta berbagai nilai yang hidup dalam relasi penghulu, ninik mamak, dan masyarakat menunjukkan bahwa kepemimpinan memiliki akar yang panjang dalam kebudayaan Minangkabau.

Namun, mengenal akar saja tidak cukup. Mahasiswa juga diajak melihat dunia yang jauh lebih luas. Literasi, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, penguasaan informasi, serta keberanian membangun jejaring menjadi bagian penting dari kepemimpinan mahasiswa hari ini. Seorang mahasiswa Sastra Minangkabau harus mampu berdiri di antara dua ruang tersebut: berakar kuat pada kebudayaannya sekaligus memiliki keberanian untuk berjalan ke dunia yang lebih luas.

Suasana pelatihan pun tidak selalu berlangsung di antara meja, kursi, dan paparan materi. Diskusi, permainan kelompok, ice breaking, kegiatan minat dan bakat, hingga outbound kepemimpinan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengalami secara langsung bagaimana sebuah kelompok bekerja. Dalam ruang-ruang sederhana itulah mereka belajar bahwa memimpin kadang berarti berbicara, tetapi pada kesempatan lain justru berarti mendengarkan. Kadang seseorang harus berada di depan, sementara pada keadaan tertentu ia harus memberikan ruang kepada orang lain.

Pada hari terakhir, seluruh perjalanan itu bermuara pada refleksi. Mahasiswa diajak kembali melihat dirinya sendiri: sudah sejauh mana ia mengenal dirinya, nilai apa yang hendak dipertahankan, dan akan menjadi manusia seperti apa setelah meninggalkan ruang kuliah.

Pelatihan akhirnya memang selesai pada 12 Juli 2026. Pada hari terakhir ini, seluruh perjalanan itu bermuara pada refleksi. Mahasiswa diajak kembali melihat dirinya sendiri: sudah sejauh mana ia mengenal dirinya, nilai apa yang hendak dipertahankan, dan akan menjadi manusia seperti apa setelah meninggalkan ruang kuliah.

Kepemimpinan yang dibangun melalui kegiatan ini baru dimulai. Sebab menjadi pemimpin bukanlah sesuatu yang selesai dalam tiga hari. Ia adalah proses panjang untuk terus bertumbuh, sementara menjadi intelektual adalah kesediaan untuk tidak pernah berhenti belajar.