Padang (Sasmin) - Kesenian tradisional tidak hidup hanya ketika ia dipertunjukkan. Ia hidup dalam ingatan orang-orang yang menjaganya, dalam tubuh yang terus berlatih, dalam cerita yang dituturkan kembali, dan dalam pengetahuan yang berpindah perlahan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Di dalam ruang seperti itulah randai bertahan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau.

Kesadaran tersebut menjadi pijakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas bersama Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati yang dimulai pada Minggu, 2 Agustus 2026. Pertemuan pertama ini menjadi awal dari rangkaian pendampingan yang diarahkan pada penguatan kapasitas komunitas dalam mengembangkan randai, mendokumentasikan pengetahuan budaya, serta memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas ruang hidup kesenian.

Program pendampingan direncanakan berlangsung selama beberapa bulan dan dilaksanakan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat LPPM Universitas Andalas. Tim diketuai oleh Yerri Satria Putra, S.S., M.A., dengan anggota Dr. Eka Meigalia, S.Hum., M.Hum., Pramawahyudi, S.Kom., M.T., dan Okta Firmansyah, M.Hum.

Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa lintas program studi sebagai asisten lapangan, yaitu Muhammad Shadra Shirazzi Putra dari Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Wira Santika, Khairunnisa Nabila, Nazila Zeri, dan Muchtarizal dari Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya; serta Puti Raudhatuzzahra dari Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Komposisi tersebut mempertemukan perspektif kebudayaan, teknologi, manajemen, dan administrasi dalam satu kerja pendampingan bersama masyarakat.

Pertemuan pertama tidak langsung dimulai dengan pelatihan. Tim memilih untuk terlebih dahulu mendengar dan mengenali komunitas dari dekat. Setelah pembukaan dan sosialisasi program, kegiatan bergerak ke dalam diskusi mengenai kondisi, potensi, dan kebutuhan Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati. Percakapan kemudian dilanjutkan melalui wawancara mendalam dan pengambilan dokumentasi sebagai bahan pengembangan konten situs web komunitas.

Pilihan untuk memulai dengan mendengar menjadi penting karena keberlanjutan kesenian tradisional tidak dapat dilepaskan dari orang-orang yang menjalani tradisi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Komunitas bukan semata objek pelestarian, melainkan pemilik pengetahuan sekaligus pelaku utama yang menentukan bagaimana pengetahuan itu akan diteruskan.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Yerri Satria Putra, menjelaskan bahwa persoalan yang dihadapi Kuranji Sejati bukan terletak pada ketiadaan aktivitas. Komunitas masih memiliki anggota, latihan masih berlangsung, dan randai masih dipertunjukkan. Modal sosial dan budaya tersebut justru menjadi kekuatan utama yang perlu dikembangkan.

Tantangannya terletak pada bagaimana pengetahuan yang selama ini hidup melalui praktik dapat terus dikembangkan menjadi pengetahuan dan karya yang dapat diwariskan. Dalam konteks randai, persoalan tersebut menjadi penting karena sebuah pertunjukan mempertemukan banyak unsur kebudayaan Minangkabau sekaligus. Di dalamnya terdapat kaba, dialog, dendang, musik, gerak, dan silek yang saling berkelindan membangun sebuah pertunjukan.

Karena itu, menjaga randai tidak cukup dimaknai sebagai menjaga sebuah bentuk pertunjukan. Di dalam randai terdapat pengetahuan tentang bahasa, cerita, tubuh, musik, hubungan sosial, serta cara masyarakat Minangkabau menafsirkan pengalaman kehidupannya. Ketika sebuah komunitas randai tumbuh, sesungguhnya terdapat sejumlah pengetahuan budaya yang ikut memperoleh ruang untuk terus hidup.

Atas dasar itu, program pengabdian dirancang tidak berhenti pada pemberian pelatihan. Pendampingan diarahkan agar komunitas secara bertahap memiliki kemampuan untuk mengembangkan karya, mendokumentasikan pengetahuan yang mereka miliki, dan membangun kemandirian dalam mengelola aktivitas kesenian.

Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan situs web komunitas. Dalam pertemuan 2 Agustus, tim melakukan wawancara mendalam untuk menggali sejarah perguruan, aktivitas kesenian, pengalaman anggota, serta berbagai pengetahuan yang nantinya dapat dikembangkan menjadi konten digital.

Situs web dalam program ini tidak dirancang sekadar sebagai halaman informasi. Ia diharapkan menjadi ruang tempat jejak perjalanan komunitas dihimpun. Profil perguruan, dokumentasi latihan dan pertunjukan, karya, aktivitas anggota, serta pengetahuan budaya dapat disimpan dan diperkenalkan kepada masyarakat secara lebih terstruktur.

Dalam perspektif yang lebih luas, dokumentasi digital juga menjadi bagian dari upaya mempertemukan tradisi dengan perubahan zaman. Pengetahuan yang sebelumnya lebih banyak beredar di lingkungan internal komunitas memperoleh kemungkinan untuk menjangkau ruang yang lebih luas tanpa harus melepaskan komunitas dari akar sosial dan budayanya.

Identitas digital yang dikelola secara profesional pada akhirnya juga dapat menjadi modal sosial baru bagi Kuranji Sejati. Melalui ruang tersebut, komunitas dapat membangun jejaring, memperkenalkan portofolio pertunjukan, membuka peluang kerja sama, serta secara bertahap mengembangkan aktivitas ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya. Teknologi, dalam konteks ini, tidak ditempatkan sebagai pengganti tradisi, tetapi sebagai medium yang membantu tradisi menemukan ruang hidup baru.

Ketua Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati, M. Zen, menyambut program pendampingan tersebut dan menyampaikan terima kasih kepada Universitas Andalas atas keterlibatan perguruan tinggi dalam mendampingi pengembangan komunitas mereka.

Pertemuan 2 Agustus menjadi tahap awal untuk membaca kebutuhan tersebut secara bersama-sama. Setelah pemetaan dilakukan, rangkaian kegiatan akan bergerak pada penguatan kapasitas penciptaan karya. Anggota komunitas akan memperoleh penguatan pemahaman mengenai kaba sebagai sumber penciptaan randai, teknik penulisan naskah randai berbahasa Minangkabau, penyusunan kerangka cerita, penciptaan tokoh, dialog dan adegan, hingga pendampingan dalam proses penulisan naskah.

Arah tersebut berangkat dari pemahaman bahwa kaba menempati posisi penting dalam kehidupan randai. Kaba menyediakan dunia cerita tempat tokoh, konflik, nilai, dan pengalaman sosial masyarakat memperoleh bentuk naratif. Kemampuan komunitas untuk mengolah sumber tersebut menjadi naskah baru menjadi salah satu jalan untuk memastikan randai tidak hanya mengulang karya yang telah ada, tetapi terus memiliki kemungkinan untuk melahirkan karya dari tangan komunitas sendiri.

Pada titik inilah pengabdian kepada masyarakat menemukan maknanya bukan sebagai kegiatan yang datang membawa pengetahuan dari luar, melainkan sebagai proses mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengetahuan yang telah lama hidup di tengah komunitas.

Perguruan tinggi dapat menghadirkan metode, teknologi, pendampingan, dan jejaring. Namun, ingatan tentang kaba, pengalaman memainkan randai, pengetahuan tentang silek, dendang, musik, dan kehidupan komunitas tetap berada pada orang-orang yang menjalaninya.

Dari perjumpaan keduanya, diharapkan tumbuh sebuah proses pemberdayaan yang tidak mencabut tradisi dari pemiliknya. Sebaliknya, komunitas diperkuat agar semakin mampu mengenali pengetahuan yang mereka miliki, mengembangkannya menjadi karya, mendokumentasikannya, serta memperkenalkannya kepada dunia yang lebih luas.

Sebab keberlanjutan sebuah tradisi pada akhirnya tidak hanya dapat dihitung dari berapa kali ia dipertunjukkan. Ia juga dapat dilihat dari apakah masih ada orang yang mempelajarinya, menuturkannya kembali, menciptakan karya baru darinya, dan merasa bahwa tradisi tersebut masih memiliki arti bagi kehidupan mereka hari ini.