Lima Puluh Kota (Sasmin) - Sebuah nagari tidak hanya dibangun oleh jalan, rumah, sawah, dan batas wilayah. Nagari juga dibangun oleh ingatan. Ada cerita tentang asal-usul kampung, nama tempat, perjalanan para pendahulu, petuah adat, serta pengalaman hidup yang dituturkan berulang-ulang dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Ingatan itulah yang membuat sebuah nagari memiliki identitas.

Di Minangkabau, sebagian ingatan tersebut hidup melalui tradisi lisan. Kaba, pantun, petatah-petitih, mamangan, cerita asal-usul, kisah tokoh, dan berbagai tuturan adat menjadi jalan bagi masyarakat untuk mengenali masa lalunya. Persoalannya, tidak semua yang pernah dituturkan telah dituliskan. Banyak pengetahuan masih tersimpan dalam ingatan ninik mamak, bundo kanduang, alim ulama, pelaku budaya, dan orang-orang tua di nagari.

Persoalan inilah yang menjadi perhatian Program Studi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, ketika melaksanakan kegiatan Pendampingan Komunitas Budaya dalam Pelestarian Tradisi Lisan di Nagari Simalanggang dan Nagari Taeh Baruah, Kabupaten Lima Puluh Kota, pada 16 sampai 17 Mei 2026.

Simalanggang dan Taeh Baruah merupakan dua nagari yang memiliki jejak sejarah dan kebudayaan yang panjang. Di tengah masyarakat masih hidup berbagai cerita mengenai asal-usul nagari, tokoh adat, hubungan antar kampung, situs budaya, serta perjalanan kehidupan masyarakat pada masa lalu. Sebagian dapat ditemukan dalam catatan tertulis, tetapi banyak pula yang hanya dapat ditemukan dengan mendengarkan masyarakat bercerita.

Karena itulah kegiatan pengabdian dilakukan dengan mendatangi masyarakat. Tim berbincang dengan tokoh adat dan tokoh masyarakat, mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah, mendengarkan cerita, mencatat informasi, serta mendokumentasikan pengetahuan yang masih tersimpan dalam ingatan masyarakat.

Dalam perjumpaan-perjumpaan itu terasa bahwa tradisi lisan sesungguhnya belum mati. Cerita masih ada. Orang-orang yang mengingatnya juga masih ada. Persoalan yang mulai muncul adalah semakin terbatasnya ruang tempat cerita tersebut dituturkan.

Perubahan cara hidup membuat proses pewarisan tidak lagi berlangsung seperti dahulu. Generasi muda tumbuh dalam lingkungan komunikasi yang berbeda. Telepon pintar menghadirkan dunia yang nyaris tidak berbatas, sementara kesempatan duduk bersama orang tua untuk mendengarkan cerita tentang nagari justru semakin sedikit. Jika keadaan ini dibiarkan, sebuah generasi mungkin masih mengenal nama tempat tinggalnya, tetapi perlahan kehilangan cerita yang menjelaskan mengapa tempat itu bernama demikian.

Pendampingan karena itu tidak dimaksudkan untuk mengajari masyarakat tentang kebudayaan mereka sendiri. Masyarakat adalah pemilik pengetahuan tersebut. Perguruan tinggi hadir sebagai mitra yang membantu membuka ruang perjumpaan, mendokumentasikan pengetahuan, serta mendorong kesadaran bahwa sesuatu yang selama ini dianggap biasa ternyata merupakan warisan budaya yang sangat berharga.

Ada suasana menarik ketika para narasumber mulai bercerita. Satu cerita sering mengundang cerita lainnya. Nama seseorang membawa ingatan kepada peristiwa tertentu. Sebuah tempat membuka kisah tentang masa lalu. Dari percakapan semacam itulah terlihat bahwa tradisi lisan sebenarnya merupakan arsip hidup. Ia tersimpan bukan di rak perpustakaan, melainkan dalam ingatan manusia.

Kegiatan ini dilaksanakan bersama tim dosen Program Studi Sastra Minangkabau, yaitu Yerri Satria Putra, S.S., M.A. bertindak sebagai Ketua Program, dengan anggota yakni, Dr. Reniwati, M.Hum., Dr. Satya Gayatri, M.Hum., Dr. Lindawati, M.Hum., Dr. Eka Meigalia, M.Hum., Dr. Rona Almos, M.Hum., Bahren, S.S., M.A., Okta Firmansyah, S.Hum., M.Hum., Sehla Rizqa Ramadhona, S.S., M.A., Lastry Monika, S.Hum., M.Hum., dan Dr. Herry Nur Hidayat, M.Hum. Mahasiswa Program Studi Sastra Minangkabau juga mengambil bagian, di antaranya Wira Santika, Nurul Fadila, Yuzi Febriani, Rahul Andelson, Nazila Zeri, Muhammad Rijalul Ihsan, dan Muchtarizal, serta mahasiswa lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Keterbukaan masyarakat Nagari Simalanggang dan Nagari Taeh Baruah, ninik mamak, tokoh adat, tokoh masyarakat, pelaku budaya, narasumber, dan masyarakat menjadi bagian terpenting dari kegiatan tersebut. Mereka tidak sekadar memberikan informasi, tetapi membuka pintu menuju ingatan kolektif nagari.

Bagi mahasiswa, pengalaman ini juga menjadi ruang belajar yang berbeda. Tradisi lisan yang biasanya dibicarakan melalui buku dan ruang kuliah hadir di hadapan mereka sebagai sesuatu yang hidup. Mereka belajar bahwa satu cerita memerlukan kesabaran untuk didengarkan, satu istilah adat membutuhkan konteks untuk dipahami, dan satu pengetahuan lokal tidak selalu dapat diterjemahkan hanya melalui definisi.

Kegiatan dua hari tentu tidak cukup untuk mendokumentasikan seluruh kekayaan tradisi lisan Simalanggang dan Taeh Baruah. Justru kegiatan ini memperlihatkan betapa luas pekerjaan yang masih perlu dilakukan. Dokumentasi perlu dilanjutkan, arsip budaya perlu dibangun, dan generasi muda perlu semakin dilibatkan.

Sebab pelestarian tradisi lisan bukan sekadar menyimpan rekaman suara atau menuliskan cerita ke dalam buku. Pelestarian yang paling penting adalah membuat tradisi itu tetap mempunyai orang yang menuturkan dan generasi yang bersedia mendengarkan.

Pada akhirnya, masa depan tradisi lisan berada pada perjumpaan antara keduanya. Selama cerita nagari masih dituturkan dan masih ada telinga yang bersedia mendengarkannya, ingatan itu belum terputus. Dan selama ingatan belum terputus, sebuah nagari masih mempunyai jalan untuk pulang kepada akar kebudayaannya.